CELLCEPT (G)

Produsen
Roche

Komposisi
Mychopenolate mofetil

Indikasi
Profilaksis dan pengobatan reaksi penolakan organ pada pasien transplantasi ginjal, hepar dan janting alogenik.
Sebaiknya digunakan bersama dengan siklosporin dan kortikosteroid.

Dosis
Profilaksis : 1 g 2x/hr, oral harus diberikan dalam 72 jam setelah transplantasi.
Pengobatan : 1 g 2x/hr. 

Baik profilaksis maupun pengobatan harus disertai penggunaan siklosporin dan kortikosteroid sebagai standar terapi.
Sediaan intravena dari Cellcept merupakan alternatif dari sediaan kapsul, tablet ataupun suspensi oral bila ada efek samping saluran cerna.
Bila diberikan intravena, Cellcept harus diberikan dalam waktu 24 jam sejak transplantasi dilakukan.
Sediaan intravena dapat diberikan hingga 14 hari,dan harus diganti kembali ke sediaan oral, bila pasien telah mampu mentolerir efek samping.

Pemberian obat
Berikan pada saat perut kosong.
Pada pasien penerima transplantasi ginjal yang stabil, obat dapat diberikan bersama makanan, bila perlu.

Kontraindikasi
CellCept dikontraindikasikan pada mereka yang memiliki riwayat alergi terhadap mycophenolate mofetil, asam mycophenolic dan komponen obat lainnya.

Sebagai tambahan, untuk sediaan injeksi, dikontraindikasikan pada alergi terhadap Polysorbate 80.

Perhatian
Gagal ginjal kronik berat, pendarahan GI, hamil dan laktasi. 
Awasi kadar neutrofil darah

Efek Samping
Diare, leukopenia, sepsis, muntah, konstipasi, nyeri perut, tremor, bengkak dan rasa kebas pada jari tangan atau kaki.

Interaksi Obat
Konsentrasi meningkat dengan asiklovir.
Penyerapan berkurang dengan antasida.
Konsentrasi plasma berkurang dengan kolestiramin, meningkat dengan probenesid
Makanan mempengaruhi penyerapan
Berinteraksi dengan azathioprine
 
Kemasan
Kapsul 250 mg x 10 x 10
Tablet 500 mg x 50

Kategori Kehamilan
D

Kategori ATC

Info Tambahan
Mycophenolate mofetil dalam eksperimen pada hewan coba memperlihatkan efek pemanjangan masa survival dari organ transplan alogenik seperti ginjal, hati, jantung, usus, usus kecil, pankreas dan sumsum tulang.
CellCept-mycophenolate-mofetil
Mycophenolate mofetil juga mampu membalikkan proses penolakan akut pada ginjal kucing dan jantung tikus dan menghambat proses inflamasi yang diinduksi reaksi imun. Obat ini juga mencegah proliferasi dari arteriopati dari aorta dan jantung pada hewan coba tikus dan primata.

Dalam eksperimen di atas, Mycophenolate mofetil digunakan sebagai agen tunggal maupun dalam kombinasi dengan imunosupresan lain

Pada pemberian oral, Mycophenolate mofetil akan dengan cepat diserap, dan membentuk MPA, yang merupakan metabolit aktifnya. MPA merupakan inhibitor dari inosine monophosphate dehydrogenase (IMPDH) yang potent, selektif, tidak kompetitif dan reversibel. MPA ini menghambat jalur sintetis nukelotida guanosin tanpa mengintervensi DNA.

Oleh karena sel limfosit B dan T sangat tergantung proliferasinya pada sintesis purin, maka metabolit MPA ini sangat toksik terhadap sel-sel limfosit. Sementara sel-sel tubuh lain, dapat memiliki cara lain untuk berproliferasi meski jalur sintesis guanosinnya dihambat.

MPA menghambat respon proliferatif dari limfosit baik terhadap stimulasi mitogenik dan allospesifik. Lebih lanjut, MPA menekan pembentukan antibodi, menghambat glikosilasi dari glikoprotein limfosit dan monosit (yang berperan pada perlekatan interseluler), dan mencegah rekruitmen leukosit ke lokasi inflamasi dan penolakan transplan berlangsung.

Mycophenolate mofetil tidak menghambat proses aktivasi dini dari aktivitas sel mononuklear pada darah perifer, seperti produksi interleukin-1 (IL-1) dan interleukin-2 (IL-2), namun mampu menghalangi efek penggandaan dari sintesis interleukin ini serta sintesis DNA dan proliferasi dari sel mononuklear di darah perifer tersebut.

Mycophenolate mofetil awalnya digunakan untuk terapi penyakit autoimun seperti idiopathic thrombocytopenic purpura (ITP), systemic lupus erythematosus (SLE), scleroderma (systemic sclerosis or SSC), dan pemphigus vulgaris (PV).

Saat ini juga masih digunakan pada terapi jangka panjang untuk mempertahankan remisi dari granulomatosis yang disertai polyangitis. Meskipun menurut penelitian efeknya kurang manjur bila dibandingkan azathioprine. In vitro, kombinasi mycophenolate mofetil dengan ribavirin, bermanfaat mengehntikan replikasi virus DNA seperti virus dengue.

Takayasu arteritis, ANCA-associated vasculitides and semua vaskulitis pembuluh darah sedang, berespon dengan obat ini.

Namun oleh karena sifatnya yang slow-onset (onset lambat) maka bila digunakan untuk terapi yang agresif, harus dikombinasikan dengan imunosupresan lain dan steroid dosis tinggi.

ZADAXIN (G)

Produsen
Tempo Scan Pacific/SciClone
Komposisi
Thymosin α-1
Indikasi
Pengobatan hepatitis B kronik pada pasien ≥18 tahun, infeksi hepatitis C kronik, komplikasi penyakit liver dan replikasi virus hepatitis B (HBV)(SERUM HBV DNA +ve) serta sebagai adjuvant pada kemoterapi tertentu.
Dosis
Untuk Hepatitis B kronik sebagai monoterapi atau kombinasi dengan interferon : 1.6 mg (900 µg/m2) Subkutaneus 2x seminggu dengan dosis terpisah dalam 3-4 hari selama 6-12 bulan. Bila berat badan kurang dari 40 kg, maka dosisnya 40 µg/kg.

Untuk Hepatitis C kronik 1,6 mg 2x/minggu selama 12 bulan. Pasien berat badan <40 kg dosisnya 40 µg/kg.

Zadaxin kadangkala juga dibutuhkan pada kanker diberikan dengan jadwal bervariasi selama 6 bulan atau di antara siklus kemoterapi. Dosisnya 1.6 mg (900 µg/m2) diberi subkutaneus
Pemberian obat
Injeksi Subkutaneus, jangan diberikan intravena
Kontraindikasi
Pasien transplantasi imunosupresan
Perhatian
Monitor fungsi liver secara periodik
Efek Samping
Rasa tidak enak pada tempat suntikan
Interaksi Obat
Imunomodulator
Kemasan
Vial 1.6 x 2
Kategori Kehamilan
C
Kategori ATC
L03AX - other immunostimulants
Info Tambahan
ZADAXIN mengandung thymosin alpha-1 diindikasikan sebagai monoterapi maupun kombinasi dengan interferon untuk terapi infeksi hepatitis B kronik dan hepatitis C kronik.
zadaxin-thymosin-alpha-1

Obat ini diberikan 2 kali dalam seminggu selama 6 bulan. Pada sebuah studi terhadap 223 pasien yang mendapat terapi ini, follow up dilakukan 12 bulan pasca selesai siklus obat. Hasilnya menunjukkan kadar enzim ALT pada hati normal, hingga 12 bulan atau lebih lama. Kadang ada dijumpai peninggian sementara enzim ALT, namun pengobatan tidak perlu dihentikan, kecuali bila disertai tanda dan gejala kegagalan fungsi hati.

Obat ini juga dapat sebagai terapi adjuvant pada kemoterapi yang menginduksi depresi, insufisiensi dan supresi dari sistem imun pada perawatan pasien dengan karcinoma paru non small cell (NSCLC), malignant melanoma, hepatocelluler carcinoma, limfoma non Hodgkin, kanker kolorektal, kanker kepala dan leher, leukemia, kanker pankreas dan kanker sel ginjal.

Pada penelitian terhadap 1000 pasien dengan berbagai tipe kanker, ditemukan bahwa, pemberian thymosin alpha-1 akan membantu memperbaiki parameter sistem imun pasien, memperbaiki ratio kepekaan respon tumor, dan secar keseluruhan memperbaiki tingkat survival dan kualitas hidup pasien. Untuk adjuvant kemoterapi ini, Zadaxin diberikan selama 6 bulan atau di antara siklus kemoterapi.

Cara kerja thymosin alpha-1 belum diketahui secara pasti namun diduga bekerja sebegai imunomodulator dan memperkuat fungsi sel T.

IMOVAX POLIO (G)

Produsen Sanofi Pasteur
Komposisi
  • Komposisi per 0.5 ml mengandung virus poliomyelitis inaktif tipe 1(Mahoney) : 40 antigen unit, tipe 2 (MEF1) : 8 antigen units, type 3 (Saukett) : 32 antigen unit.
  • Komposisi bahan non medis : 2-phenoxyethanol
  • Residual proses pembuatan : formaldehyde, calf serum protein, neomycin, streptomycin, polymyxin B
Indikasi
  • Sebagai imunisasi aktif terhadap polio yang disebabkan virus polio tipe 1,2 dan 3 pada bayi umur 2 bulan, anak-anak dan dewasa, baik sebagai imunisasi primer maupun booster.
  • Pencegahan poliomielitis pada bayi dan anak dengan penurunan imunitas atau pasca kontak dengan anggota rumah tangga. 
  • Untuk vaksinasi pada individu yang tidak dapat diberikan (kontra indikasi) vaksin polio oral
Dosis Dosis pada anak
Dosis Imunisasi primer IMOVAX Polio pada anak terdiri atas 3 dosis 0.5 ml yang diberikan secara subkutan.Imunisasi dimulai sejak usia 2 bulan. Interval antara dosis pertama dengan dosis kedua minimal 4 minggu tapi sebaiknya 8 minggu. Dosis ketiga diberikan minimal 6 bulan namun sebaiknya 12 bulan pasca injeksi kedua. Jadwal dosis primer ini dapat  diintegrasikan dengan pemberian imunisasi difteri, tetanus, pertussis dan haemophilus influenzae tipe B. dimulai pada usia 2 bulan.

Cara alternatif dengan pemberian 3 dosis 0.5 ml dengan interval 8 minggu masing-masingnya, diikuti pemberian dosis keempat 0.5 ml, 12 bulan pasca injeksi ketiga.

Bila terjadi kelambatan pemberian imunisasi melewati usia 2 bulan, jadwal pemberian tetap mengikuti pola interval injeksi yang sama.

Dosis booster dapat diberikan pada usia 4-6 tahun. Kecuali bila injeksi terakhir dari dosis primer berakhir pada usia 4 tahun, maka booster diberikan pada usia 14-16 tahun.

Total keseluruhan 4 dosis diperlukan untuk memberikan perlindungan total. Bila anak dan remaja mendapat imunisasi polio yang tidak komplit, harus mendapat dosis tambahan hingga genap 4 dosis. Total 4 dosis ini termasuk dengan dosis vaksin polio oral (bila sebelumnya diawali vaksin polio oral).

Dosis pada orang dewasa
Orang dewasa yang sebelumnya mendapat vaksin polio namun tidak komplit (baik oral maupun injeksi), harus mendapat dosis yang tersisa dalam bentuk injeksi, berapapun lamanya interval sejak dosis terahir yang diterima.

Orang dewasa yang berisiko tinggi terpapar virus polio : diberi dosis tunggal bila telah lebih 10 tahun sejak dosis primer telah komplit.
Pemberian obat
  • Kocok prefilled syringe sebelum digunakan agar larutan tersebar merata.
  • Injeksi dilakukan subkutaneus. Pada bayi dan anak dianjurkan di daerah mid-lateral dari paha. Pada anak  yang lebih besar dan dewasa, injeksi dianjurkan pada daerah deltoideus atau triceps.
Kontraindikasi Demam, Penyakit akut atau penyakit kronik progresif, hipersensivitas, penyakit infeksi febril akut.
Alergi terhadap bahan aktif dan non aktif dari vaksin (bahan inaktif seperti neomisin, streptomisin, polimiksin B) 
Perhatian Efektivitas dan keamanan vaksin ini pada pemberian terhadap anak usia dibawah 6 minggu tidak diketahui.
Efek Samping Kadang kala dapat terjadi demam dan bengkak pada tempat injeksi
Dapat terjadi alergi pada orang tertentu
Interaksi Obat
  • acetaminophen
  • belimumab
  • fingolimod
  • immunosuppressan (obat yg digunakan untuk terapi kanker, penyakit autoimun dan reaksi penolakan pada transplantasi organ)
  • azathioprine
  • kortikosteroid (misalnya : budesonide, dexamethasone, hydrocortisone, fluticasone, prednisone)
  • cyclosporine
  • hydroxyurea
  • infliximab
  • obat kemoterapi (misalnya : carboplatin, cyclophosphamide, doxorubicin, ifosfamide, vincristine)
  • mycophenolate
  • rituximab
  • tacrolimus
  • warfarin
Kemasan Kemasan Dosis tunggal berisi syringe 0.5 mL x 1
Kemasan Paket 10 dosis berisi syringe 0.5 mL x 10
Kategori Kehamilan C
Kategori ATC J07BF03 - Poliomyelitis, trivalent, inactivated, whole virus
Info Tambahan
  • Poliomyelitis disebabkan 3 jenis kelompok virus polio yang tergolong enterovirus . Poliomyelitis merupakan penyakit yang menyebabkan kelumpuhan total pada beberapa orang yang terinfeksi. Kelumpuhan ini bersifat ireversibel (menetap).
    vaksin-polio-IMOVAX-POLIO
    Polio merupakan penyakit yang sangat menular, terutama menular melalui jalur fecal-oral namun dapat pula melalui jalur faring (saluran nafas). Vaksin polio pertama dilakukan di kanada tahun 1955 dan berhasil mengatasi infeksi ini.

    Vaksin polio injeksi (IPV) mampu memicu tubuh menghasilkan antibodi (igA) yang dihasilkan di faring dan usus.  Memori sistem imun terhadap virus polio tipe 1 disebutkan bertahan hingga 10 tahun namun secara umum, perlindungan terhadap infeksi polio adalah hingga 4 tahun lebih pasca injeksi dosis primer diselesaikan.
  • Simpan pada suhu 2° hingga 8° C (35° to 46° F). Jangan dibekukan. Perhatikan tanggal kadaluarsa
  • Vaksin IMOVAX POLIO tidak mengandung thimerosal (thimerosal free)
  • Pemerintah berencana mengganti total penggunaan vaksin polio oral dengan injeksi beberapa tahun ke depan.

ENGERIX-B (G)

Produsen GlaxoSmithKline
Komposisi Adsorbed purified surface antigen protein of hepatitis B virus (recombinant)
IndikasiImunisasi aktif terhadap infeksi virus hepatitis B, dapat digunakan untuk  melengkapi vaksinasi primer atau sebagai booster pada subyek yang sebelumnya menerima vaksinasi primer dengan vaksin hepatitis B yang telah direkayasa secara genetik.
Dosis
  • Dewasa dan anak > 10 tahun 20 mcg (IM pd bagian deltoid)
  • Anak < 10 tahun 10 mcg (IM pd bagian anterolateral paha). 
  • Jadwal pemberian bulan ke 0,1 dan 6
Pemberian obat
  • Injeksi intramuskular dilakukan di bagian anterolateral paha pada anak < 1 tahun dan otot deltoid pada anak lebih besar. 
  • Injeksi jangan pada otot gluteus karena akan memberikan hasil yang tidak optimal. 
  • Injeksi pada subkutaneus akan memberi hasil antibodi yang lebih rendah. Dilakukan hanya apabila pasien berisiko terjadi perdarahan, misalnya pada penderita hemofilia.
  • Jangan diberikan intravena dan intradermal.
Kontraindikasi
  • Hipersensitif terhadap komponen vaksin.
  • Tunda vaksinasi pada individu yang menderita febris (demam) akut
Perhatian Hamil dan laktasi
Efek Samping Reaksi lokal pada tempat penyuntikan, demam, kurang enak badan, sakit kepala, mual, pusing
Interaksi Obat Obat imunosupresan
Kemasan Pre filled syringe 10 mcg/0.5 ml x 1
Vial 20 mcg/ 1ml x 1
Kategori Kehamilan C
Kategori ATC J07BC01 - hepatitis B, purified antigen 
Info Tambahan
ENGERIX-B (hepatitis B vaccine (recombinant)) diindikasikan sebagai imunisasi aktif melawan infeksi hepatitis B. Vaksin ini tidak memberi perlindungan terhadap hepatitis A , dan virus hepatitis non A non B lainnya. Untuk infeksi Hepatitis D tidak akan terjadi kalau infeksi hepatitis B tidak ada, sehingga vaksin ini juga dapat mencegah infeksi hepatitis D.
engerix-b-vaksin-hepatitis-b

Vaksin ini dapat diberikan pada kelompok umur mana saja. Dapat diberikan sebagai vaksin primer maupun sebagai booster. Juga dapat sebagai pelengkap dosis primer maupun sebagai booster pada vaksinasi hepatitis B yang menggunakan vaksin yang berasal dari plasma atau jamur.

Pada daerah dengan angka infeksi hepatitis B yang rendah, vaksinasi sangat dianjurkan pada mereka yang berisiko tinggi, seperti petugas kesehatan, pasien RS (yang mendapat transfusi, hemodialisis,dll)

Virus hepatitis B menyebabkan infeksi hepatitis yang tergolong berat.  Penularan infeksi ini melalui kontak kulit dengan darah, plasma ataupun serum penderita. Selain itu, penularan virus hepatitis B juga dapat melalui kontak permukaan mukosa dan kulit (utuh maupun luka)  terhadap cairan tubuh penderita yang lain seperti air liur, sekresi mukosa dan semen.

Tidak ada terapi yang spesifik untuk hepatitis. Periode inkubasi sejak terpapar hingga menimbulkan gejala adalah sekitar 6 bulan. Gejala yang muncul bisa sangat kompleks, dari gambaran infeksi akut, hingga kronik dan seringkali membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Infeksi hepatitis B merupakan salah satu masalah kesehatan dunia yang utama, meskipun insidens dan epidemiologinya bervariasi diantara wilayah geografi dan kelompok populasi yang berbeda.

Di Kanada, Amerika Serikat dan Eropa bagian utara, ditemukan angka kejadian sekitar 4-6% dari keseluruhan populasi (sebgaian besar terinfeksi pada kelompok umur dewasa muda). Dari jumlah ini, 5 hingga 10%, menjadi pembawa virus yang menetap (persistent carrier).

Di Asia, infeksi hepatitis B sebagian besar pertamakali muncul pada kelompok usia lebih dini dengan angka prevalensi marker hepatitis B mencapai 70% dari populasi. Dari jumlah ini, 20% nya merupakan carrier menetap.

Diperkirakan di seluruh dunia, carrier virus hepatitis B mencapai 350 juta orang. Mereka pembawa virus yang menetap ini, berisiko tinggi terkena infeksi hati kronik yang berujung pada sirosis hati dan karsinoma hepatoseluler. Penurunan yang signifikan dari insiden karsinoma hepatoseluler, dapat dicapai melalui vaksinasi hepatitis B pada anak usia 6-14 tahun. Vaksinasi hepatitis B dalam jangka panjang,secara signifikan menurunkan semua risiko terkait  hepatitis B, baik infeksi secara langsung maupun komplikasi kronisnya (sirosis dan ca.hepatoseluler).

Kandungan lain vaksin ini :
Aluminum hydroxide 0.5 mL dan 1.0 mL
formulasi bebas thimerosal

AVAXIM 80/AVAXIM 160 (G)

Produsen Sanofi Pasteur
Komposisi Virus hepatitis A inaktif
Indikasi Avaxim 80 : pencegahan infeksi virus hepatitis A pada anak 2-15 tahun.
Avaxim 160 : pencegahan infeksi virus hepatitis A pada anak > 15 tahun
Dosis 0.5 ml/ inj IM. Vaksinasi primer : 1 dosis vaksin diikuti suntikan booster 6 bulan kemudian
Pemberian obat Injeksi intramuskular
Kontraindikasi Tidak dianjurkan digunakan pada anak berusia kurang dari 12 bulan
Demam
Penyakit akut
Penyakit progresif kronik
Penggunaan secara IV atau intradermal
Perhatian Hipersensitif terhadap neomisin
Penyakit hati.
Hamil
Laktasi 
Efek Samping Setidaknya dilaporkan ada 1% kasus mengalami efek samping, namun bisa diatasi. Efek samping yang mungkin ditemukan :
Nyeri setempat disertai kemerahan.
Demam.
Rasa lelah,
Sakit kepala,
Nyeri sendi,
Gangguan GI
Interaksi Obat Obat yg mengandung formaldehida
Acetaminophen
Belimumab
Warfarin
Fingolimod
Terapi immunosuppressive(obat yang digunakan untuk kanker, transplantasi atau pada kondisi-kondisi terkait sistem imun) :
  • azathioprine
  • corticosteroids (e.g., budesonide, dexamethasone, hydrocortisone, fluticasone, prednisone)
  • cyclosporine
  • hydroxyurea
  • infliximab
  • obat kemoterapi (carboplatin, cyclophosphamide, doxorubicin, ifosfamide, vincristine)
  • mycophenolate
  • rituximab
  • tacrolimus
Kemasan Pre-filled syringe avaxim 80 80 u/0.5 ml x 1
Pre-filled syringe avaxim 160 160 iu/0.5 ml x 1
Kategori Kehamilan Tidak ada data yang adekuat untuk menilai keamanan vaksin ini terhadap wanita hamil. Sebaiknya tidak dilakukan vaksinasi hepatitis A pada wanita yang sedang hamil kecuali dalam keadaan perlu dan telah dilakukan pertimbangan untung ruginya terlebih dahulu.
Kategori ATC J07BC02 - hepatitis A, inactivated, whole virus 
Info Tambahan Avaxim merupakan Vaksin Hepatitis A yang merupakan vaksin untuk mencegah terjadinya infeksi hepatitis A. Vaksin ini mengandung virus hepatitis A inaktif yang tidak mampu menimbulkan penyakit, namun menstimulsi sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi antibodi terhadap hepatitis A.
vaksin-avaxim-vaksin-hepatitis-A

Proteksi terhadap infeksi hepatitis A didapatkan satu bulan pasca injeksi dengan vaksin ini. Hampir 100% penerima vaksin akan memiliki kadar antibodi diatas 20mIU/ml. Data serologik memperlihatkan efek perlindungan terhadap hepatitis A berlangsung hingga 36 bulan pasca injeksi pertama, bila penerima merespon baik. Perlindungan yang didapatkan pasca injeksi kedua (booster) dikatakan bisa lebih dari 10 tahun.

Hepatitis A merupakan infeksi serius pada hati yang ditularkan paling sering melalui makanan atau air yang tercemar virus hepatitis A. Virus hepatitis A ini, banyak ditemukan di daerah yang tidak memiliki sanitasi  dan pembuangan air yang baik.

ActHIB Vaksin (G)

Produsen Sanofi Pasteur
Komposisi Polisakarida dari Haemophilus Influenzae tipe B yang juga berkonjugasi dengan protein tetanus
Indikasi Mencegah meningitis, pneumonia karena H. Influenzae tipe B pada bayi usia min 2 bulan
Dosis Bayi < 6 bulan :  3x inj dengan interval 2 bulan diikuti booster 12 bulan sesudah pemberian dosis ke-3
Bayi  6-12 bulan : 2x inj dengan interval 2 bulan diikuti booster 12 bulan sesudah pemberian dosis ke-2.
Anak 1-5 tahun : 1x injeksi tunggal
Pemberian obat Injeksi intramuskular pada paha atau lengan atas pada anak yang lebih besar.
Kontraindikasi Hipersensitif terhadap protein tetanus.

Seseorang  yang pernah terkena reaksi alergi berat pasca pemberian vaksin HIB sebelumnya, tidak boleh mendapat vaksin HIB lagi.

Mereka yang pernah terkena sakit sedang pasca mendapat vaksin HIB, harus menunggu sampai benar-benar pulih untuk mendapat dosis lanjutan.

Vaksin Hib jangan diberikan pada bayi berusia kurang 6 minggu.

Bila diberikan kombinasi dengan vaksin difteri, jangan diberikan pada anak di bawah usia 15 bulan.

Perhatian Beritahu petugas bila anda : hamil , menyusui, menderita demam atau penyakit akut, penyakit infeksi, gangguan perdarahan, riwayat menderita Guiilain-Barre syndrome, sistem imun melemah (akibat cancer, HIV, limfoma, leukimia, radiasi),dan riwayat vaksinasi sebelumnya.

Sebelum menggunakan vaksin ini, beritahu petugas kesehatan bila anak anda memiliki alergi baik terhadap bahan vaksin ini maupun vaksin lainnya. Selain zat aktif, vaksin ini mengandung beberapa zat inaktif (seperti latex) yang dapat menyebabkan reaksi alergi.

Pada pasien dengan Hodgkin’s disease, harus mendapat vaksin ini 10-14 hari sebelum memulai terapi atau menanti kurang lebih 3 bulan setelah kemoterapi dihentikan.
Efek Samping Sebagian besar orang yang mendapat vaksin HIB tidak mendapat masalah. Bila ada, reaksi yang terjadi cukup ringan dan lokal seperti : eritema, pembengkakan, sakit pada daerah suntikan. Efek samping ini jarang dan terjadi segera setelah injeksi dan berakhir dalam 2-3 hari.

Efek samping yang lebih jarang : demam, sakit kepala, malaise, iritabilitas, kejang, sianosis pada tubuh bagian bawah, eritema multiforme.

Bila terjadi alergi (kurang 1 kasus diantara 1 juta dosis pemberian) akan terjadi dalam beberapa menit hingga beberapa jam pasca injeksi. Sama seperti obat lainnya, bila terjadi reaksi alergi dapat saja membahayakan jiwa bila tidak segera ditangani.
Interaksi Obat Beberapa produk obat yang dapat berinteraksi dengan vaksin ACT-HIB seperti : warfarin, heparin, kortikosteroid (hidrokortison, prednisone), obat kemoterapi, obat yang menurunkan sistem imun (siklosporin, tacrolimus)
Vaksin ini juga dapat berinteraksi dengan tes laboratorium, menyebabkan hasil pembacaan lab yang salah.
Kemasan 10 mcg/0.5 ml x 1 dosis
Kategori Kehamilan C
Kategori ATC J07AG51 - Hemophilus influenzae B, purified antigen conjugated
Info Tambahan ActHIB  merupakan sebuah vaksin konjugasi Haemophilus b ( konjugasi dengan komponen protein inaktif difteri, meningococcal, atau Tetanus Toxoid ) diproduksi oleh Sanofi Pasteur SA. Vaksin ini berupa bubuk steril terlipolisasi yang dilarutkan dalam salin (0.4% NaCl) atau Tripedia. Melekatkan rantai polisakarida Haemophilus b dengan protein carier, meningkatkan kemampuan sistem imun anak kecil untuk mengenal bakteri ini dan memproduksi antibodi yang adekuat.

Meskipun merupakan konjugasi dengan protein difteri, meningococal ataupun toxoid tetanus,  ActHIB tidak menggantikan vaksinasi reguler dari masing- masing bakteri tersebut.
acthib-vaksin-antihemofilus-influenzae-b
Vaksin HIB membantu melindungi anak dan bayi dari bahaya infeksi Haemophilus influenzae tipe B (Hib) dengan memicu tubuh membentuk antibodi terhadap hib. Hib adalah infeksi bakterial yang dapat menyebabkan penyakit serius seperti infeksi otak (meningitis), epiglotitis, pericarditis, artritits septik dan pneumonia. Meningitis yang berat dapat menyebabkan kematian atau kecacatan seeprti tuli, buta, retardasi mental dan epilepsi. Anak berusia kurang dari 5 tahun, rawan terkena penyakit ini dan vaksinasi merupakan pencegahan terbaik terhadap infeksi yang membutuhkan perawatan seumur hidup.

Seorang anak dapat terinfeksi Hib saat bermain dengan anak lain atau orang dewasa yang membawa bakteri ini dan tidak mengetahui dirinya pembawa kuman.  Kuman akan menyebar dari satu individu ke individu lainnya. Bila kuman melekat di hidung atau tenggorokan anak, mungkin anak tidak akan kelihatan sakit. Namun bila kuman masuk lebih jauh hingga ke paru dan menembus pembuluh darah, maka ia akan dapat menyebabkan infeksi yang serius. Kondisi ini disebut infeksi Hib invasif.

Sebelum ditemukannya vaksin Hib, penyakit Hib invasif merupakan penyebab utama meningitis pada anak usia dibawah 5 tahun. Di Amerika, 20.000 anak menderita Hib tiap tahunnya dengan 3-6 persen diantaranya berakhir dengan kematian. Setelah ada vaksin ini, penyakit Hib invasif segera menurun drastis hingga 99%. Pada umur diatas 5 tahun dan dewasa, vaksin ini jarang diberikan.

Vaksin ACT-HIB diberikan secara intramuskular oleh petugas kesehatan terlatih biasanya pada paha atau lengan atas. Injeksi diberikan secara berseri disertai booster, agar memberikan perlindungan maksimal.

Vaksin HIB dapat diberikan bersama-sama dengan vaksin lain seperti difteri, tetanus, pertussis, hepatitis dan polio.

PYLITEP (G)

Produsen Hexpharm
Komposisi Terfenadine
Indikasi Rinitis alergi atau alergi kulit dan reaksi alergi lainnya
Dosis
  • Dewasa dan anak > 12 tahun 1 tab
  • Anak 6-12 tahun 1/2 - 1 tab
  • Anak 3- 5 tahun 1/4 tab
Semua dosis diberikan 2x/ hari (pagi-sore)
Pemberian obat Diberi dengan segelas penuh air minum dan ditelan utuh (jangan dikunyah atau dipecahkan)
Kontraindikasi
  • Hipersensitif.
  • Menyusui
  • Sedang mengkonsumsi obat tertentu (baca di interaksi obat)
Perhatian
  • Hamil
  • Asma dan ganguan paru lainnya.
  • Kadar potassium darah yang rendah.
  • Retensi urin dan pembesaran prostat.
  • Gangguan jantung (irama jantung tak teratur)
Efek Samping
  • Reaksi alergi  (sulit bernafas, tenggorokan tersumbat, bibir, lidah atau wajah bengkak, erupsi kulit)
  • Irama jantung ireguler
  • Kejang
Dapat juga ditemukan :
  • Mengantuk
  • Sakit kepala
  • Nervous
  • Muntah, diare dan gangguan abdomen lainnya
  • Mulut kering
  • Kulit kering dan gatal
Interaksi Obat Dapat timbul toksisitas bila dikonsumsi bersama obat tertentu seperti antibiotik (eritromisin, clarithromycin,azithromycin), antifungal (ketoconazole,itraconazole) dan obat untuk ulkus lambung seperti simetidine. Efek toksik obat-obat ini terutama menyebabkan risiko timbulnya aritmia kardiak (irama jantung tidak teratur) semakin tinggi bila dikonsumsi bersama terfenadine.

Obat lain yang mungkin berinteraksi dengan terfenadine :
  • Beta-blocker : propranolol, metoprolol.
  • Monoamine oxidase inhibitor (MAOI) antidepressant seperti : isocarboxazid, penelzine, tranylcypromine.
  • Tricyclic antidepressant seperti : amitriptyline, doxepin, nortriptyline.
  • Caffeine, amphetamines, decongestan  pil diet.
Kemasan Tab 60 mg x 5 x 10
Kategori Kehamilan C – Hanya diberikan pada keadaan dimana manfaat dianggap lebih besar dibanding risiko.
Kategori ATC R06AX12 - Terfenadine
Info Tambahan Obat Pylitep mengandung Terfenadine merupakan antihistamin yang digunakan untuk mengatasi kondisi alergi. Di Amerika, Kanada, Inggris dan beberapa negara lainnya, terfenadine ini telah ditarik dari peredaran karena efek sampingnya terhadap irama jantung, yakni dapat memicu aritmia kardiak yang disebabkan pemanjangan interval Q-T pada EKG. Penggantinya, Fexofenadine, lebih aman terhadap efek samping berbahaya ini.
konversi-terfenadine-fexofenadine
Sebenarnya terfenadine ini termasuk prodrug, artinya akan dimetabolisme lebih lanjut di hati oleh enzim sitokrom P450 3A4 untuk menghasilkan metabolit fexofenadine, yang merupakan zat aktif yang berfungsi sebagai antihistamin. Oleh karena dimetabolisme lengkap di hati (pasca diserap usus) menjadi metabolit aktifnya, terfenadine hampir tidak bisa di lacak dalam plasma darah.

Terfenadine bersifat kardiotoksik bila dikonsumsi dalam dosis tinggi, sementara metbolitnya, fexofenadine, tidak kardiotoksik. Terfenadine selain memiliki efek antihistamin, juga merupakan suatu blocker kanal potassium (K+ channel blocker).  Tapi tidak pada metabolitnya fexofenadine.

Dapat timbul toksisitas bila dikonsumsi bersama obat tertentu seperti antibiotik (eritromisin, clarithromycin,azithromycin), antifungal (ketoconazole,itraconazole) dan obat untuk ulkus lambung seperti simetidine. Efek toksik obat-obat ini terutama menyebabkan risiko timbulnya aritmia kardiak (irama jantung tidak teratur) semakin tinggi bila dikonsumsi bersama terfenadine.

Hati-hati mengkonsumsi Pylitep bila sedang mengemudi atau sedang beraktivitas yang berisiko tinggi. Terfenadine dapat menyebabkan kantuk dan pusing. Jauhilah aktivitas berat dan mengemudi bila terasa mengantuk atau pusing. Alkohol dapat memperberat efek mengantuk dan pusing dari terfenadine ini.

TELFAST (G)

Produsen Sanofi Aventis
Komposisi Fexofenadine HCls
Indikasi Meredakan gejala-gejala yang berhubungan dengan rinitis alergi
Dosis Telfast (fexofenadine) aman dan efektif digunakan untuk orang dewasa dan pada anak kelompok umur 2-5 tahun dan 6-11 tahun sebagai terapi rinitis alergi.
Dosis yang direkomendasikan  :
  • Dewasa dengan rhinitis alergi : 120 mg sekali/hari
  • Anak 6-12 tahun dengan rhinitis alergi  : 30 mg 2x/hari, pada pagi dan sore hari
  • Dewasa dengan urtikaria kronik : 180 mg sekali/hari
obat-telfast-sirup
Pemberian obat Pasca pemberian oral, konsentrasi maksimum plasma dicapai adalah 2-3 jam. Telfast (Fexofenadine) jangan diberi bersama makanan tinggi lemak, oleh karena akan menurunkan kadar fexofenadine dalam darah hingga 20-60 %, tergantung jenis sediaan obat (tablet, ODT atau suspensi)
Kontraindikasi Alergi terhadap fexofenadine
Perhatian Gangguan ginjal atau hati. Lanjut usia. Anak < 6 tahun. Hamil dan laktasi
Efek Samping Sakit kepala, mengantuk, mual, pusing, lelah
Interaksi Obat Eritromisin, ketokonazol; antasida yang mengandung AI dan Mg(OH)2
Kemasan Tab salut selaput 30 mg x 5 x 10
Sirup 150 ml
Kategori Kehamilan C - Hanya diberikan bila manfaat lebih besar dibandingkan risiko
Kategori ATC R06AX26‎ - Fexofenadine
Info Tambahan TELFAST adalah obat dokter yang mengandung zat aktif Fexofenadine, merupakan obat golongan antihistamin yang bermanfaat dalam meringankan gejala alergi seperti, rhinitis alergi, hay fever, kongesti nasal dan urtikaria. Efek kerja spesifik dari fexofenadine adalah sebagai blocker selektif dari reseptor H1.
struktur-molekul-fexofenadine-obat-antihistamin

Fexofenadine diklasifikasikan ke dalam antihistamin generasi kedua karena memiliki kemampuan melintasi sawar darah-otak yang lebih rendah dibanding pendahulunya. Kemampuan melintasi sawar darah-otak ini terkait dengan efek sedatif dari obat antihistamin. Karena kemampuan melintasi sawar darah-otak yang lebih rendah, maka Telfast lebih kurang menyebabkan efek sedatif. Kadang obat ini juga digolongkan ke dalam antihistamin generasi ketiga, namun istilah “generasi ketiga ini masih kontroversi.

Penggunaan medis
TELFAST digunakan untuk mengatasi gejala fisik terkait rinitis alergi musiman dan urtikaria kronik. Obat ini tidak menyembuhkan namun mencegah memburuknya kondisi penyakit dan mengurangi beratnya gejala yang muncul seperti bersin-bersin, hidung berair, mata atau kulit yang gatal serta kelemahan dan rasa lemas.

Dosis
Telfast (fexofenadine) aman dan efektif digunakan untuk orang dewasa dan pada anak kelompok umur 2-5 tahun dan 6-11 tahun sebagai terapi rinitis alergi. Dosis yang direkomendasikan  :
- Dewasa dengan rhinitis alergi musiman (hay fever) : 120 mg sekali/hari
- Anak 6-12 tahun dengan rhinitis alergi musiman (hay fever) : 30 mg 2x/hari, pada pagi dan sore hari
- Dewasa dengan urtikaria kronik : 180 mg sekali/hari

Penyesuaian dosis
Pada gangguan fungsi ginjal dimana terjadi penurunan klirens kreatinin kurang dari 80 mL/menit, dianjurkan untuk memulai konsumsi obat ini pada dosis terendah.
Pada gangguan fungsi hati, tidak perlu dilakukan penyesuaian dosis, oleh karena sangat rendah persentase obat ini yang dimetabolisme di hati.

Efek samping
Efek samping yang umum ditemukan pada orang dewasa meliputi sakit kepala, nyeri punggung, miosis (pinpoint) pupil, mengantuk dan nyeri haid. Kadang dilaporkan juga ada peningkatan kecemasan dan insomnia. Efek samping yang umum ditemukan pada penelitian klinis meliputi batuk, infeksi saluran nafas atas, demam , otitis media pada anak usia 6-11 tahun serta kelemahan (fatigue) pada anak usia 6 bulan – 5 tahun.

Waktu paruh obat ini lebih pendek dari ceftirizine, sehingga membutuhkan pemberian 2 kali dalam sehari (meskipun kadang pada label,menyebutkan dosis hanya diberikan sekali sehari). Dibandingkan ceftirizine , fexofenadine kurang menyebabkan kantuk.

Overdosis
Profil keamanan fexofenadine cukup baik oleh karena tidak ada efek kardiovaskular dan sedatif meski dikonsumsi hingga 10 kali lipat dari dosis normal. Penelitian pada manusia dengan pemberian dosis tunggal 800 mg atau 690 mg 2x/hari selama sebulan, tidak menunjukkan efek samping yang berbahaya bila dibandingkan plasebo. Tidak ditemukan kematian saat dilakukan uji pada tikus pada dengan 5000 mg/kg berat badan, dimana sekitar 110 x dosis normal untuk manusia dewasa. Bila terjadi overdosis, gejala yang mungkin muncul meliputi pusing, mulut kering, mengantuk.

Mekanisme kerja
Fexofenadine merupakan blocker H1 selektif. Mencegah aktivasi histamin pada reseptor H1, sehingga mencegah gejala yang muncul terkait alergi. Fexofenadine tidak menunjukkan efek antikolinergik, alpha-1-adrenergik dan blok reseptor beta adrenergik.

Farmakokinetik
Absorpsi. Pasca pemberian oral, konsentrasi maksimum plasma dicapai adalah 2-3 jam. Fexofenadine jangan diberi bersama makanan tinggi lemak, oleh karena akan menurunkan kadar fexofenadine dalam darah hingga 20-60 %, tergantung jenis sediaan obat (tablet, ODT atau suspensi).

Distribusi : Fexofenadine 60-70% terikat dengan plasma protein, sebagian besar adalah albumin.

Metabolisme : Hanya 5 % yang dimetabolisme di hati.

Eliminasi : sebagian besar substansi dieliminasi tanpa dirubah bentuknya melalui feces (80%) dan urin (12%).

Interaksi
Mengkonsumsi bersama dengan erythromycin dan ketokonazole akan meningkatkan kadar plasma dari fexofenadine, namun peningkatan ini tidak mempengaruhi interval QT. Alasannya terkait efek terhadap transpor, yang meliputi glikoprotein.

Fexofenadin jangan dikonsumsi bersama buah apel, jeruk dan anggur karena akan menurunkan absorpso obat dan konsentrasi plasma dari fexofenadin.

Antasida mengandung aluminium atau magnesium, jangan diberi dalam 15 menit sebelum fexofenadine karena akan menurunkan absorpsi hingga 50%.

Populasi khusus
Fexofenadine tergolong dalam kategori kehamilan C, hanya diberikan bila manfaat lebih besar dibandingkan risiko

Tidak ada studi yang meneliti fexofenadine diekskresikan dalam air susu ibu, namun wanita yang menyusui tetap dianjurkan untuk berhati-hati mengkonsumsi obat ini.

Tidak ada penelitian yang memadai dilakukan terhadap kelompok usia lebih dari 65 tahun. Sehingga pemberian pada kelompok usia ini harus dengan perhatian lebih, terutama bila ada yang menderita gangguan ginjal.

OXTIN (G)

Produsen Guardian Pharmatama
Komposisi Oxatomide
Indikasi
  • Profilaksis dan terapi dasar pada rinitis alergi, urtikaria kronik, konjungtivitis folikuler dan alergi makanan. 
  • Terapi asma ekstrinsik namun tidak untuk pencegahan
obat-oxtin-mengandung-oxatomide-antihistamin
Dosis
  • Dewasa 30 mg 2x/hari
  • Anak 0.5 mg/kgBB/pemberian. Dosis dapat ditingkatkan menjadi 2x lebih besar jika tidak ada perbaikan dalam waktu 1 minggu.
Pemberian obat Berikan sesudah makan
Kontraindikasi
  • Alergi terhadap Oxatomide
  • Hepatitis
Perhatian
  • Perhatian ekstra bila diberikan pada anak usia dibawah 6 tahun oleh adanya fenomena overdosis karena distribusi yang meningkat ke sistem saraf pusat.
  • Berikan secara hati-hati pada pasien yang mengalami gangguan hepar.
Efek Samping
  • Penambahan berat badan dan naiknya nafsu makan (dosis tinggi)
  • Mengantuk, mulai dari ringan hingga yang berat tak bisa berkonsentrasi, pusing, hipotesi, kelemahan otot dan inkoordinasi.
  • Efek samping lain meski jarang ditemukan meliputi gangguan saluran cerna seperti mual, muntah, diare atau konstipasi dan nyeri epigastrik.
  • Pada bayi dan anak-anak dilaporkan adanya reaksi neurologi diskinetik.  Kejang epileptik dapat terpicu pada pasien yang memiliki lesi fokal di daerah kortek serebri.
  • Bila alergi terhadap obat ini maka reaksi alergi yang dapat muncul meliputi urtikaria, angioedema dan reaksi anaphylactoid (jarang terjadi).
Interaksi Obat
  • Dapat memperberat efek samping dari obat golongan antikolinergik seperti atropin.
  • Memperberat efek sedatif obat seperti alkohol, barbiturat, obat tidur, narkotik, anti epileptik dan sedatif.
  • Dilaporkan efek ototoksik dari antibiotik golongan aminoglikosida meningkat bila diberi bersama oat ini,
  • Efek antimuskarinik dari Oxtin ini dapat meningkat bila diberi bersama dengan obat-obat monoamin oksidase inhibitor.
Kemasan Tab 30 mg x 5 x 10
Kategori Kehamilan Tidak ada data pada manusia namun pada hewan coba dilaporkan obat ini meski dalam jumlah kecil sanggup melewati sawar plasenta dan air susu.
Kategori ATC R06AE06 – Oxatomide
Info Tambahan Obat Oxtin merupakan obat dokter yang mengandung zat aktif Oxatomide. Oxatomide merupakan antihistamin generasi pertama dari golongan diphenylmethylpiperazine (benzhydrylpiperazine).
obat-oxtin-mengandung-oxatomide-antihistamin

Oxatomide merupakan antihistamin dengan efek antikolinergik yang rendah. Efek antihistaminnya adalah melalui efek antagonis terhadap reseptor H1 dari histamin. Sebagai efek tambahan dari sifatnya yang antagonis terhadap reseptor H1, oxatomide juga memiliki efek antiserotonergik.

Oxatomide diabsorpsi lengkap dari saluran cerna bila diberikan secara oral. Kadar puncak dalam darah tercapai dalam 2 jam pasca pemberian. Metabolisme oxatomide adalah melalui hepar melalui mekanisme hidroksilasi aromatik.

Oxatomide tidak cocok untuk mengatasi dengan segera kondisi alergi atau serangan asma akut. Bila diberikan pada penderita asma, maka rejimen pengobatan yang telah diberikan sebelumnya, tidak bisa langsung dihentikan melainkan secara bertahap. Terutama pada pasien yang diterapi dengan kortikosteroid.

Oleh karena eliminasi obat ini melalui hepar, maka harus diberi secara hati-hati pada pasien yang juga mengalami gangguan fungsi hati. Dosis yang diberikan haruslah dimulai setengah dari dosis normal.

Meskipun efek antikolinergik rendah, tetap saja harus hati-hati bila diberi bersama dengan obat antikolinergik seperti atropin.