Produsen
|
Sanofi Pasteur
|
Komposisi
|
Kandungan Aktif :
Diphtheria Toxoid
15 Lf
Tetanus Toxoid 5 Lf
Pertussis aseluler
Pertussis Toxoid
(PT) 20 µg
Filamentous
Haemagglutinin (FHA) 20 µg
Pertactin (PRN) 3
µg
Fimbriae Types 2
and 3 (FIM) 5 µg
Vaksin
Poliomyelitis inaktif :
Tipe 1 (Mahoney) 40
D-antigen unis + Tipe 2 (MEF1) 8 D-antigen unit + Tipe 3 (Saukett) 32
D-antigen unit
Purified
Polyribosylribitol Phosphate Capsular
Polysaccharide
(PRP) dari Haemophilus influenzae tipe b terikat kovalen pada 18-30 µg
protein Tetanus 10 µg
Kandungan lain :
Excipients
(vehikulum)
Aluminum Phosphate
(adjuvant) 1.5 mg
2-phenoxyethanol
0.6% v/v
Polysorbate 80
≤0.1% w/v
Residu proses
pembuatan :
Bovine serum
albumin, neomycin, polymyxin B, streptomycin, formaldehyde and glutaraldehyde
|
Indikasi
|
Imunisasi difteri,
tetanus, pertusis, poliomielitis, & H Influenza tipe Binvasif untuk anak
usia 2 bln-7 tahun
|
Dosis
|
Imunisasi Primer
0.5 ml 1x scr inj IM pd bln ke 2, 4,6 dan 18 pada anterolateral paha atas
atau otot deltoid
|
Pemberian obat
|
Injeksi
intaramuskular pada anterolateral paha atas atau deltoid
Kocok vial hingga
tercampur merata sebelum digunakan
|
Kontraindikasi
|
Alergi terhadap
komponen vaksin ini
|
Perhatian
|
Tidak boleh
diberikan pada daerah bokong, pembuluh darah atau melalui intradermal.
Jangan diberikan
pada anak dengan kondisi neurologik progresif, perlahan atau tidak stabil.
Pasien dengan
episode hipotonik/hiporesponsif sesudah pemberian vaksin yang mengandung
pertusis sebelumnya
|
Efek Samping
|
Kemerahan,
perlunakan, pembengkakan pada daerah injeksi, demam, rewel, kurang nafsu
makan, muntah, mutah mengantuk, iritabilitas
|
Interaksi Obat
|
Obat Imunosupresan
dan obat kanker
|
Kemasan
|
Pre filled syringe
0.5 ml dan Vial
|
Kategori Kehamilan
|
C
|
Kategori ATC
|
|
Info Tambahan
|
Diphteria : Strain dari C.
diphtheriae yang menghasilkan toksin diphtheria dapat menyebabkan penyakit
yang berat dan mematikan, dengan
karakteristik inflamasi membranosa pada saluran nafas atas. Toxin selanjutnya
dapat merusak otot jantung dan sistem saraf.
Proteksi terhadap C. diphtheriae
adalah dengan memicu tubuh menghasilkan antibodi terhadap toksin tersebut.
Diketahui bahwa kadar serum dari antitoksin diphteriaesekurang-kurangnya 0.1
IU/mL, sudah cukup memberi perlindungan. Bila kadarnya mencapai 1.0 IU/mL,
maka efek perlingdungannya berlangsung dalam jangka panjang.
Tetanus : Tetanus merupakan penyakit infeksi akut dan fatal, disebabkan neurotoksin yang sangat
poten yang dihasilkan C. tetani. Toksin tetanus akan menyebabkan disfungsi
saluran nafas disertai spasme dan kekakuan sistem muskuloskeletal. Proteksi
terhadap C. tetani adalah melalui antibodi penetral toksin tetanus tersebut.
Kadar antibodi tetanus yang dibutuhkan adalah minimal 0,01 IU/mL dan untuk
perlindungan jangka panjang, kadar 1.0 IU/mL sudah cukup. Pada uji klinik di
Kanada, pasca pemberian 4 dosis PEDIACEL®, 100% (N = 300), anak-anak yang
tekah diimunisasi mendapatkan kadar antitoksin diphteriae dan tetanus,
minimal 0.01 IU/mL hingga 0.1 IU/mL dalam darahnya. Kadar ini menurun secara
bertahap namun memberikan perlindungan hingga 10 tahun lamanya. Direkomendasikan dilakukan booster setiap 10 tahun.
Pertussis
(batuk rejan) merupakan infeksi saluran nafas disebabkan B. pertussis.
Bordatella pertussis merupakan bakteri coccobacilus gram negatif, mengandung
beberapa komponen aktif, yang berperan
dalam patogenesis dan perjalanan penyakit.
Mekanisme proteksi terhadap
infeksi B. pertussis ini belum difahami dengan baik. Namun dalam sebuah uji
klinik di Swedia selama 1 tahun, komponen pertussis dalam PEDIACEL® (yakni,
PT, FHA, PRN dan FIM), telah menunjukkkan kemampuan mencegah infeksi
pertussis pada balita dengan efikasi hingga 85,2%.
Poliomyelitis: Vaksin
poliomyelitis inaktif akan menginduksi tubuh menghasilkan antibodi terhadap
setiap tipe poliovirus. Sebuah studi klinik PEDIACEL® pada 300 anak di Kanada
menunjukkan bahwa, pasca selesainya 4 dosis, lebih dari 99.7% mencapai kadar
antibodi yang memberikan efek proteksi terhadap infeksi virus polio tipe 1,2
dan 3.
Haemophilus influenzae Tipe b : Aktivitas bakterisidal terhadap Hib
terlihat dalam serum pasca diberikan imunisasi dengan vaksin Hib
terkonjugasi. Pada kelompok anak usia ≥24 bulan, titer antibodi terhadap
kapsul polisakarida H. influenzae (anti-PRP) adalah ≥0.15 µg/mL, setelah mendapat vaksin
PEDIACEL. Titer antibodi ≥1.0 µg/mL
terkait dengan perlindungan selama sekurang-kurangnya 1 tahun. Pada uji
klinik terhadap 300 anak di Kanada, 4 dosis vaksin PEDIACEL®, 99% mencapai
titer antibodi protektif ≥1.0 μg/mL.
|
Home
Posts filed under vaksin
Tampilkan postingan dengan label vaksin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label vaksin. Tampilkan semua postingan
PEDIACEL (G) - vaksin
ZADAXIN (G)
Produsen
|
Tempo Scan
Pacific/SciClone
|
Komposisi
|
Thymosin
α-1
|
Indikasi
|
Pengobatan
hepatitis B kronik pada pasien ≥18 tahun, infeksi hepatitis C kronik, komplikasi penyakit liver dan replikasi virus hepatitis B
(HBV)(SERUM HBV DNA +ve) serta sebagai adjuvant pada kemoterapi tertentu.
|
Dosis
|
Untuk Hepatitis B
kronik sebagai monoterapi atau kombinasi dengan interferon : 1.6 mg (900 µg/m2)
Subkutaneus 2x seminggu dengan dosis terpisah dalam 3-4 hari selama 6-12 bulan.
Bila berat badan kurang dari 40 kg, maka dosisnya 40 µg/kg.
Untuk Hepatitis C kronik 1,6 mg 2x/minggu selama 12 bulan. Pasien berat badan <40 kg dosisnya 40 µg/kg.
Zadaxin kadangkala
juga dibutuhkan pada kanker diberikan dengan jadwal bervariasi selama 6 bulan
atau di antara siklus kemoterapi. Dosisnya 1.6 mg (900 µg/m2) diberi
subkutaneus
|
Pemberian
obat
|
Injeksi Subkutaneus, jangan diberikan intravena
|
Kontraindikasi
|
Pasien
transplantasi imunosupresan
|
Perhatian
|
Monitor fungsi
liver secara periodik
|
Efek
Samping
|
Rasa tidak enak
pada tempat suntikan
|
Interaksi
Obat
|
Imunomodulator
|
Kemasan
|
Vial 1.6 x 2
|
Kategori
Kehamilan
|
C
|
Kategori
ATC
|
L03AX - other immunostimulants
|
Info
Tambahan
|
ZADAXIN mengandung thymosin alpha-1 diindikasikan sebagai monoterapi maupun kombinasi dengan interferon untuk terapi infeksi hepatitis B kronik dan hepatitis C kronik.
Obat ini diberikan 2 kali dalam seminggu selama 6 bulan. Pada sebuah studi terhadap 223 pasien yang mendapat terapi ini, follow up dilakukan 12 bulan pasca selesai siklus obat. Hasilnya menunjukkan kadar enzim ALT pada hati normal, hingga 12 bulan atau lebih lama. Kadang ada dijumpai peninggian sementara enzim ALT, namun pengobatan tidak perlu dihentikan, kecuali bila disertai tanda dan gejala kegagalan fungsi hati. Obat ini juga dapat sebagai terapi adjuvant pada kemoterapi yang menginduksi depresi, insufisiensi dan supresi dari sistem imun pada perawatan pasien dengan karcinoma paru non small cell (NSCLC), malignant melanoma, hepatocelluler carcinoma, limfoma non Hodgkin, kanker kolorektal, kanker kepala dan leher, leukemia, kanker pankreas dan kanker sel ginjal. Pada penelitian terhadap 1000 pasien dengan berbagai tipe kanker, ditemukan bahwa, pemberian thymosin alpha-1 akan membantu memperbaiki parameter sistem imun pasien, memperbaiki ratio kepekaan respon tumor, dan secar keseluruhan memperbaiki tingkat survival dan kualitas hidup pasien. Untuk adjuvant kemoterapi ini, Zadaxin diberikan selama 6 bulan atau di antara siklus kemoterapi. Cara kerja thymosin alpha-1 belum diketahui secara pasti namun diduga bekerja sebegai imunomodulator dan memperkuat fungsi sel T. |
IMOVAX POLIO (G)
| Produsen | Sanofi Pasteur |
| Komposisi |
|
| Indikasi |
|
| Dosis | Dosis pada anak Dosis Imunisasi primer IMOVAX Polio pada anak terdiri atas 3 dosis 0.5 ml yang diberikan secara subkutan.Imunisasi dimulai sejak usia 2 bulan. Interval antara dosis pertama dengan dosis kedua minimal 4 minggu tapi sebaiknya 8 minggu. Dosis ketiga diberikan minimal 6 bulan namun sebaiknya 12 bulan pasca injeksi kedua. Jadwal dosis primer ini dapat diintegrasikan dengan pemberian imunisasi difteri, tetanus, pertussis dan haemophilus influenzae tipe B. dimulai pada usia 2 bulan. Cara alternatif dengan pemberian 3 dosis 0.5 ml dengan interval 8 minggu masing-masingnya, diikuti pemberian dosis keempat 0.5 ml, 12 bulan pasca injeksi ketiga. Bila terjadi kelambatan pemberian imunisasi melewati usia 2 bulan, jadwal pemberian tetap mengikuti pola interval injeksi yang sama. Dosis booster dapat diberikan pada usia 4-6 tahun. Kecuali bila injeksi terakhir dari dosis primer berakhir pada usia 4 tahun, maka booster diberikan pada usia 14-16 tahun. Total keseluruhan 4 dosis diperlukan untuk memberikan perlindungan total. Bila anak dan remaja mendapat imunisasi polio yang tidak komplit, harus mendapat dosis tambahan hingga genap 4 dosis. Total 4 dosis ini termasuk dengan dosis vaksin polio oral (bila sebelumnya diawali vaksin polio oral). Dosis pada orang dewasa Orang dewasa yang sebelumnya mendapat vaksin polio namun tidak komplit (baik oral maupun injeksi), harus mendapat dosis yang tersisa dalam bentuk injeksi, berapapun lamanya interval sejak dosis terahir yang diterima. Orang dewasa yang berisiko tinggi terpapar virus polio : diberi dosis tunggal bila telah lebih 10 tahun sejak dosis primer telah komplit. |
| Pemberian obat |
|
| Kontraindikasi | Demam, Penyakit akut atau penyakit kronik progresif, hipersensivitas, penyakit infeksi febril akut. Alergi terhadap bahan aktif dan non aktif dari vaksin (bahan inaktif seperti neomisin, streptomisin, polimiksin B) |
| Perhatian | Efektivitas dan keamanan vaksin ini pada pemberian terhadap anak usia dibawah 6 minggu tidak diketahui. |
| Efek Samping | Kadang kala dapat terjadi demam dan bengkak pada tempat injeksi Dapat terjadi alergi pada orang tertentu |
| Interaksi Obat |
|
| Kemasan | Kemasan Dosis tunggal berisi syringe 0.5 mL x 1 Kemasan Paket 10 dosis berisi syringe 0.5 mL x 10 |
| Kategori Kehamilan | C |
| Kategori ATC | J07BF03 - Poliomyelitis, trivalent, inactivated, whole virus |
| Info Tambahan |
|
ENGERIX-B (G)
| Produsen | GlaxoSmithKline |
| Komposisi | Adsorbed purified surface antigen protein of hepatitis B virus (recombinant) |
| Indikasi | Imunisasi aktif terhadap infeksi virus hepatitis B, dapat digunakan untuk melengkapi vaksinasi primer atau sebagai booster pada subyek yang sebelumnya menerima vaksinasi primer dengan vaksin hepatitis B yang telah direkayasa secara genetik. |
| Dosis |
|
| Pemberian obat |
|
| Kontraindikasi |
|
| Perhatian | Hamil dan laktasi |
| Efek Samping | Reaksi lokal pada tempat penyuntikan, demam, kurang enak badan, sakit kepala, mual, pusing |
| Interaksi Obat | Obat imunosupresan |
| Kemasan | Pre filled syringe 10 mcg/0.5 ml x 1 Vial 20 mcg/ 1ml x 1 |
| Kategori Kehamilan | C |
| Kategori ATC | J07BC01 - hepatitis B, purified antigen |
| Info Tambahan | ENGERIX-B (hepatitis B vaccine (recombinant)) diindikasikan sebagai imunisasi aktif melawan infeksi hepatitis B. Vaksin ini tidak memberi perlindungan terhadap hepatitis A , dan virus hepatitis non A non B lainnya. Untuk infeksi Hepatitis D tidak akan terjadi kalau infeksi hepatitis B tidak ada, sehingga vaksin ini juga dapat mencegah infeksi hepatitis D. Vaksin ini dapat diberikan pada kelompok umur mana saja. Dapat diberikan sebagai vaksin primer maupun sebagai booster. Juga dapat sebagai pelengkap dosis primer maupun sebagai booster pada vaksinasi hepatitis B yang menggunakan vaksin yang berasal dari plasma atau jamur. Pada daerah dengan angka infeksi hepatitis B yang rendah, vaksinasi sangat dianjurkan pada mereka yang berisiko tinggi, seperti petugas kesehatan, pasien RS (yang mendapat transfusi, hemodialisis,dll) Virus hepatitis B menyebabkan infeksi hepatitis yang tergolong berat. Penularan infeksi ini melalui kontak kulit dengan darah, plasma ataupun serum penderita. Selain itu, penularan virus hepatitis B juga dapat melalui kontak permukaan mukosa dan kulit (utuh maupun luka) terhadap cairan tubuh penderita yang lain seperti air liur, sekresi mukosa dan semen. Tidak ada terapi yang spesifik untuk hepatitis. Periode inkubasi sejak terpapar hingga menimbulkan gejala adalah sekitar 6 bulan. Gejala yang muncul bisa sangat kompleks, dari gambaran infeksi akut, hingga kronik dan seringkali membutuhkan perawatan di rumah sakit. Infeksi hepatitis B merupakan salah satu masalah kesehatan dunia yang utama, meskipun insidens dan epidemiologinya bervariasi diantara wilayah geografi dan kelompok populasi yang berbeda. Di Kanada, Amerika Serikat dan Eropa bagian utara, ditemukan angka kejadian sekitar 4-6% dari keseluruhan populasi (sebgaian besar terinfeksi pada kelompok umur dewasa muda). Dari jumlah ini, 5 hingga 10%, menjadi pembawa virus yang menetap (persistent carrier). Di Asia, infeksi hepatitis B sebagian besar pertamakali muncul pada kelompok usia lebih dini dengan angka prevalensi marker hepatitis B mencapai 70% dari populasi. Dari jumlah ini, 20% nya merupakan carrier menetap. Diperkirakan di seluruh dunia, carrier virus hepatitis B mencapai 350 juta orang. Mereka pembawa virus yang menetap ini, berisiko tinggi terkena infeksi hati kronik yang berujung pada sirosis hati dan karsinoma hepatoseluler. Penurunan yang signifikan dari insiden karsinoma hepatoseluler, dapat dicapai melalui vaksinasi hepatitis B pada anak usia 6-14 tahun. Vaksinasi hepatitis B dalam jangka panjang,secara signifikan menurunkan semua risiko terkait hepatitis B, baik infeksi secara langsung maupun komplikasi kronisnya (sirosis dan ca.hepatoseluler). Kandungan lain vaksin ini : Aluminum hydroxide 0.5 mL dan 1.0 mL formulasi bebas thimerosal |
AVAXIM 80/AVAXIM 160 (G)
| Produsen | Sanofi Pasteur |
| Komposisi | Virus hepatitis A inaktif |
| Indikasi | Avaxim 80 : pencegahan infeksi virus hepatitis A pada anak 2-15 tahun. Avaxim 160 : pencegahan infeksi virus hepatitis A pada anak > 15 tahun |
| Dosis | 0.5 ml/ inj IM. Vaksinasi primer : 1 dosis vaksin diikuti suntikan booster 6 bulan kemudian |
| Pemberian obat | Injeksi intramuskular |
| Kontraindikasi | Tidak dianjurkan digunakan pada anak berusia kurang dari 12 bulan Demam Penyakit akut Penyakit progresif kronik Penggunaan secara IV atau intradermal |
| Perhatian | Hipersensitif terhadap neomisin Penyakit hati. Hamil Laktasi |
| Efek Samping | Setidaknya dilaporkan ada 1% kasus mengalami efek samping, namun bisa diatasi. Efek samping yang mungkin ditemukan : Nyeri setempat disertai kemerahan. Demam. Rasa lelah, Sakit kepala, Nyeri sendi, Gangguan GI |
| Interaksi Obat | Obat yg mengandung formaldehida Acetaminophen Belimumab Warfarin Fingolimod Terapi immunosuppressive(obat yang digunakan untuk kanker, transplantasi atau pada kondisi-kondisi terkait sistem imun) :
|
| Kemasan | Pre-filled syringe avaxim 80 80 u/0.5 ml x 1 Pre-filled syringe avaxim 160 160 iu/0.5 ml x 1 |
| Kategori Kehamilan | Tidak ada data yang adekuat untuk menilai keamanan vaksin ini terhadap wanita hamil. Sebaiknya tidak dilakukan vaksinasi hepatitis A pada wanita yang sedang hamil kecuali dalam keadaan perlu dan telah dilakukan pertimbangan untung ruginya terlebih dahulu. |
| Kategori ATC | J07BC02 - hepatitis A, inactivated, whole virus |
| Info Tambahan | Avaxim merupakan Vaksin Hepatitis A yang merupakan vaksin untuk mencegah terjadinya infeksi hepatitis A. Vaksin ini mengandung virus hepatitis A inaktif yang tidak mampu menimbulkan penyakit, namun menstimulsi sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi antibodi terhadap hepatitis A. Proteksi terhadap infeksi hepatitis A didapatkan satu bulan pasca injeksi dengan vaksin ini. Hampir 100% penerima vaksin akan memiliki kadar antibodi diatas 20mIU/ml. Data serologik memperlihatkan efek perlindungan terhadap hepatitis A berlangsung hingga 36 bulan pasca injeksi pertama, bila penerima merespon baik. Perlindungan yang didapatkan pasca injeksi kedua (booster) dikatakan bisa lebih dari 10 tahun. Hepatitis A merupakan infeksi serius pada hati yang ditularkan paling sering melalui makanan atau air yang tercemar virus hepatitis A. Virus hepatitis A ini, banyak ditemukan di daerah yang tidak memiliki sanitasi dan pembuangan air yang baik. |
ActHIB Vaksin (G)
| Produsen | Sanofi Pasteur |
| Komposisi | Polisakarida dari Haemophilus Influenzae tipe B yang juga berkonjugasi dengan protein tetanus |
| Indikasi | Mencegah meningitis, pneumonia karena H. Influenzae tipe B pada bayi usia min 2 bulan |
| Dosis | Bayi < 6 bulan : 3x inj dengan interval 2 bulan diikuti booster 12 bulan sesudah pemberian dosis ke-3 Bayi 6-12 bulan : 2x inj dengan interval 2 bulan diikuti booster 12 bulan sesudah pemberian dosis ke-2. Anak 1-5 tahun : 1x injeksi tunggal |
| Pemberian obat | Injeksi intramuskular pada paha atau lengan atas pada anak yang lebih besar. |
| Kontraindikasi | Hipersensitif terhadap protein tetanus. Seseorang yang pernah terkena reaksi alergi berat pasca pemberian vaksin HIB sebelumnya, tidak boleh mendapat vaksin HIB lagi. Mereka yang pernah terkena sakit sedang pasca mendapat vaksin HIB, harus menunggu sampai benar-benar pulih untuk mendapat dosis lanjutan. Vaksin Hib jangan diberikan pada bayi berusia kurang 6 minggu. Bila diberikan kombinasi dengan vaksin difteri, jangan diberikan pada anak di bawah usia 15 bulan. |
| Perhatian | Beritahu petugas bila anda : hamil , menyusui, menderita demam atau penyakit akut, penyakit infeksi, gangguan perdarahan, riwayat menderita Guiilain-Barre syndrome, sistem imun melemah (akibat cancer, HIV, limfoma, leukimia, radiasi),dan riwayat vaksinasi sebelumnya. Sebelum menggunakan vaksin ini, beritahu petugas kesehatan bila anak anda memiliki alergi baik terhadap bahan vaksin ini maupun vaksin lainnya. Selain zat aktif, vaksin ini mengandung beberapa zat inaktif (seperti latex) yang dapat menyebabkan reaksi alergi. Pada pasien dengan Hodgkin’s disease, harus mendapat vaksin ini 10-14 hari sebelum memulai terapi atau menanti kurang lebih 3 bulan setelah kemoterapi dihentikan. |
| Efek Samping | Sebagian besar orang yang mendapat vaksin HIB tidak mendapat masalah. Bila ada, reaksi yang terjadi cukup ringan dan lokal seperti : eritema, pembengkakan, sakit pada daerah suntikan. Efek samping ini jarang dan terjadi segera setelah injeksi dan berakhir dalam 2-3 hari. Efek samping yang lebih jarang : demam, sakit kepala, malaise, iritabilitas, kejang, sianosis pada tubuh bagian bawah, eritema multiforme. Bila terjadi alergi (kurang 1 kasus diantara 1 juta dosis pemberian) akan terjadi dalam beberapa menit hingga beberapa jam pasca injeksi. Sama seperti obat lainnya, bila terjadi reaksi alergi dapat saja membahayakan jiwa bila tidak segera ditangani. |
| Interaksi Obat | Beberapa produk obat yang dapat berinteraksi dengan vaksin ACT-HIB seperti : warfarin, heparin, kortikosteroid (hidrokortison, prednisone), obat kemoterapi, obat yang menurunkan sistem imun (siklosporin, tacrolimus) Vaksin ini juga dapat berinteraksi dengan tes laboratorium, menyebabkan hasil pembacaan lab yang salah. |
| Kemasan | 10 mcg/0.5 ml x 1 dosis |
| Kategori Kehamilan | C |
| Kategori ATC | J07AG51 - Hemophilus influenzae B, purified antigen conjugated |
| Info Tambahan | ActHIB merupakan sebuah vaksin konjugasi Haemophilus b ( konjugasi dengan komponen protein inaktif difteri, meningococcal, atau Tetanus Toxoid ) diproduksi oleh Sanofi Pasteur SA. Vaksin ini berupa bubuk steril terlipolisasi yang dilarutkan dalam salin (0.4% NaCl) atau Tripedia. Melekatkan rantai polisakarida Haemophilus b dengan protein carier, meningkatkan kemampuan sistem imun anak kecil untuk mengenal bakteri ini dan memproduksi antibodi yang adekuat. Meskipun merupakan konjugasi dengan protein difteri, meningococal ataupun toxoid tetanus, ActHIB tidak menggantikan vaksinasi reguler dari masing- masing bakteri tersebut. Vaksin HIB membantu melindungi anak dan bayi dari bahaya infeksi Haemophilus influenzae tipe B (Hib) dengan memicu tubuh membentuk antibodi terhadap hib. Hib adalah infeksi bakterial yang dapat menyebabkan penyakit serius seperti infeksi otak (meningitis), epiglotitis, pericarditis, artritits septik dan pneumonia. Meningitis yang berat dapat menyebabkan kematian atau kecacatan seeprti tuli, buta, retardasi mental dan epilepsi. Anak berusia kurang dari 5 tahun, rawan terkena penyakit ini dan vaksinasi merupakan pencegahan terbaik terhadap infeksi yang membutuhkan perawatan seumur hidup. Seorang anak dapat terinfeksi Hib saat bermain dengan anak lain atau orang dewasa yang membawa bakteri ini dan tidak mengetahui dirinya pembawa kuman. Kuman akan menyebar dari satu individu ke individu lainnya. Bila kuman melekat di hidung atau tenggorokan anak, mungkin anak tidak akan kelihatan sakit. Namun bila kuman masuk lebih jauh hingga ke paru dan menembus pembuluh darah, maka ia akan dapat menyebabkan infeksi yang serius. Kondisi ini disebut infeksi Hib invasif. Sebelum ditemukannya vaksin Hib, penyakit Hib invasif merupakan penyebab utama meningitis pada anak usia dibawah 5 tahun. Di Amerika, 20.000 anak menderita Hib tiap tahunnya dengan 3-6 persen diantaranya berakhir dengan kematian. Setelah ada vaksin ini, penyakit Hib invasif segera menurun drastis hingga 99%. Pada umur diatas 5 tahun dan dewasa, vaksin ini jarang diberikan. Vaksin ACT-HIB diberikan secara intramuskular oleh petugas kesehatan terlatih biasanya pada paha atau lengan atas. Injeksi diberikan secara berseri disertai booster, agar memberikan perlindungan maksimal. Vaksin HIB dapat diberikan bersama-sama dengan vaksin lain seperti difteri, tetanus, pertussis, hepatitis dan polio. |
PYLITEP (G)
| Produsen | Hexpharm |
| Komposisi | Terfenadine |
| Indikasi | Rinitis alergi atau alergi kulit dan reaksi alergi lainnya |
| Dosis |
|
| Pemberian obat | Diberi dengan segelas penuh air minum dan ditelan utuh (jangan dikunyah atau dipecahkan) |
| Kontraindikasi |
|
| Perhatian |
|
| Efek Samping |
|
| Interaksi Obat | Dapat timbul toksisitas bila dikonsumsi bersama obat tertentu seperti antibiotik (eritromisin, clarithromycin,azithromycin), antifungal (ketoconazole,itraconazole) dan obat untuk ulkus lambung seperti simetidine. Efek toksik obat-obat ini terutama menyebabkan risiko timbulnya aritmia kardiak (irama jantung tidak teratur) semakin tinggi bila dikonsumsi bersama terfenadine. Obat lain yang mungkin berinteraksi dengan terfenadine :
|
| Kemasan | Tab 60 mg x 5 x 10 |
| Kategori Kehamilan | C – Hanya diberikan pada keadaan dimana manfaat dianggap lebih besar dibanding risiko. |
| Kategori ATC | R06AX12 - Terfenadine |
| Info Tambahan | Obat Pylitep mengandung Terfenadine merupakan antihistamin yang digunakan untuk mengatasi kondisi alergi. Di Amerika, Kanada, Inggris dan beberapa negara lainnya, terfenadine ini telah ditarik dari peredaran karena efek sampingnya terhadap irama jantung, yakni dapat memicu aritmia kardiak yang disebabkan pemanjangan interval Q-T pada EKG. Penggantinya, Fexofenadine, lebih aman terhadap efek samping berbahaya ini. Sebenarnya terfenadine ini termasuk prodrug, artinya akan dimetabolisme lebih lanjut di hati oleh enzim sitokrom P450 3A4 untuk menghasilkan metabolit fexofenadine, yang merupakan zat aktif yang berfungsi sebagai antihistamin. Oleh karena dimetabolisme lengkap di hati (pasca diserap usus) menjadi metabolit aktifnya, terfenadine hampir tidak bisa di lacak dalam plasma darah. Terfenadine bersifat kardiotoksik bila dikonsumsi dalam dosis tinggi, sementara metbolitnya, fexofenadine, tidak kardiotoksik. Terfenadine selain memiliki efek antihistamin, juga merupakan suatu blocker kanal potassium (K+ channel blocker). Tapi tidak pada metabolitnya fexofenadine. Dapat timbul toksisitas bila dikonsumsi bersama obat tertentu seperti antibiotik (eritromisin, clarithromycin,azithromycin), antifungal (ketoconazole,itraconazole) dan obat untuk ulkus lambung seperti simetidine. Efek toksik obat-obat ini terutama menyebabkan risiko timbulnya aritmia kardiak (irama jantung tidak teratur) semakin tinggi bila dikonsumsi bersama terfenadine. Hati-hati mengkonsumsi Pylitep bila sedang mengemudi atau sedang beraktivitas yang berisiko tinggi. Terfenadine dapat menyebabkan kantuk dan pusing. Jauhilah aktivitas berat dan mengemudi bila terasa mengantuk atau pusing. Alkohol dapat memperberat efek mengantuk dan pusing dari terfenadine ini. |
Langganan:
Postingan (Atom)



