Tampilkan postingan dengan label alergi dan sistem imun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alergi dan sistem imun. Tampilkan semua postingan

PEDIACEL (G) - vaksin

Produsen
Sanofi Pasteur

Komposisi
Kandungan Aktif :
Diphtheria Toxoid 15 Lf
Tetanus Toxoid 5 Lf
Pertussis aseluler
Pertussis Toxoid (PT) 20 µg
Filamentous Haemagglutinin (FHA) 20 µg
Pertactin (PRN) 3 µg
Fimbriae Types 2 and 3 (FIM) 5 µg
Vaksin Poliomyelitis inaktif :
Tipe 1 (Mahoney) 40 D-antigen unis + Tipe 2 (MEF1) 8 D-antigen unit + Tipe 3 (Saukett) 32 D-antigen unit
Purified Polyribosylribitol Phosphate Capsular
Polysaccharide (PRP) dari Haemophilus influenzae tipe b terikat kovalen pada 18-30 µg protein Tetanus 10 µg

Kandungan lain :
Excipients (vehikulum)
Aluminum Phosphate (adjuvant) 1.5 mg
2-phenoxyethanol 0.6% v/v
Polysorbate 80 ≤0.1% w/v

Residu proses pembuatan :
Bovine serum albumin, neomycin, polymyxin B, streptomycin, formaldehyde and glutaraldehyde

Indikasi
Imunisasi difteri, tetanus, pertusis, poliomielitis, & H Influenza tipe Binvasif untuk anak usia 2 bln-7 tahun

Dosis
Imunisasi Primer 0.5 ml 1x scr inj IM pd bln ke 2, 4,6 dan 18 pada anterolateral paha atas atau otot deltoid

Pemberian obat
Injeksi intaramuskular pada anterolateral paha atas atau deltoid
Kocok vial hingga tercampur merata sebelum digunakan

Kontraindikasi
Alergi terhadap komponen vaksin ini

Perhatian
Tidak boleh diberikan pada daerah bokong, pembuluh darah atau melalui intradermal.
Jangan diberikan pada anak dengan kondisi neurologik progresif, perlahan atau tidak stabil.
Pasien dengan episode hipotonik/hiporesponsif sesudah pemberian vaksin yang mengandung pertusis sebelumnya

Efek Samping
Kemerahan, perlunakan, pembengkakan pada daerah injeksi, demam, rewel, kurang nafsu makan, muntah, mutah mengantuk, iritabilitas

Interaksi Obat
Obat Imunosupresan dan obat kanker

Kemasan
Pre filled syringe 0.5 ml dan Vial

Kategori Kehamilan
C

Kategori ATC

Info Tambahan
Diphteria : Strain dari C. diphtheriae yang menghasilkan toksin diphtheria dapat menyebabkan penyakit yang berat  dan mematikan, dengan karakteristik inflamasi membranosa pada saluran nafas atas. Toxin selanjutnya dapat merusak otot jantung dan sistem saraf. 
vaksin-pediacel-diptheria-tetanus-pertussis-poliomyelitis-haemophils-influenzae

Proteksi terhadap C. diphtheriae adalah dengan memicu tubuh menghasilkan antibodi terhadap toksin tersebut. Diketahui bahwa kadar serum dari antitoksin diphteriaesekurang-kurangnya 0.1 IU/mL, sudah cukup memberi perlindungan. Bila kadarnya mencapai 1.0 IU/mL, maka efek perlingdungannya berlangsung dalam jangka panjang. 

Tetanus : Tetanus merupakan penyakit infeksi akut dan fatal, disebabkan neurotoksin yang sangat poten yang dihasilkan C. tetani. Toksin tetanus akan menyebabkan disfungsi saluran nafas disertai spasme dan kekakuan sistem muskuloskeletal. Proteksi terhadap C. tetani adalah melalui antibodi penetral toksin tetanus tersebut. 

Kadar antibodi tetanus yang dibutuhkan adalah minimal 0,01 IU/mL dan untuk perlindungan jangka panjang, kadar 1.0 IU/mL sudah cukup. Pada uji klinik di Kanada, pasca pemberian 4 dosis PEDIACEL®, 100% (N = 300), anak-anak yang tekah diimunisasi mendapatkan kadar antitoksin diphteriae dan tetanus, minimal 0.01 IU/mL hingga 0.1 IU/mL dalam darahnya. Kadar ini menurun secara bertahap namun memberikan perlindungan hingga 10 tahun lamanya.  Direkomendasikan dilakukan booster setiap 10 tahun. 

Pertussis (batuk rejan) merupakan infeksi saluran nafas disebabkan B. pertussis. Bordatella pertussis merupakan bakteri coccobacilus gram negatif, mengandung beberapa komponen aktif,  yang berperan dalam patogenesis dan perjalanan penyakit.

Mekanisme proteksi terhadap infeksi B. pertussis ini belum difahami dengan baik. Namun dalam sebuah uji klinik di Swedia selama 1 tahun, komponen pertussis dalam PEDIACEL® (yakni, PT, FHA, PRN dan FIM), telah menunjukkkan kemampuan mencegah infeksi pertussis pada balita dengan efikasi hingga 85,2%. 

Poliomyelitis: Vaksin poliomyelitis inaktif akan menginduksi tubuh menghasilkan antibodi terhadap setiap tipe poliovirus. Sebuah studi klinik PEDIACEL® pada 300 anak di Kanada menunjukkan bahwa, pasca selesainya 4 dosis, lebih dari 99.7% mencapai kadar antibodi yang memberikan efek proteksi terhadap infeksi virus polio tipe 1,2 dan 3. 

Haemophilus influenzae Tipe b : Aktivitas bakterisidal terhadap Hib terlihat dalam serum pasca diberikan imunisasi dengan vaksin Hib terkonjugasi. Pada kelompok anak usia ≥24 bulan, titer antibodi terhadap kapsul polisakarida H. influenzae (anti-PRP) adalah  ≥0.15 µg/mL, setelah mendapat vaksin PEDIACEL. Titer antibodi  ≥1.0 µg/mL terkait dengan perlindungan selama sekurang-kurangnya 1 tahun. Pada uji klinik terhadap 300 anak di Kanada, 4 dosis vaksin PEDIACEL®, 99% mencapai titer antibodi protektif ≥1.0 μg/mL.

MYFORTIC (G)

Produsen
Novartis Indonesia

Komposisi
Mycophenolic acid (dalam bentuk Mycophenolate sodium)

Indikasi
Terapi kombinasi dengan obat lain seperti siklosporin untuk mikroemulsi dan kortikosteroid untuk profilaksis penolakan akut organ donor pada pasien yang menerima transplantasi ginjal allogenik.

Dosis
  • Dosis Myfortic Untuk dewasa adalah 720 mg 2x/hari (total dosis harian 1440 mg)
  • Dosis Myfortic untuk anak 5-16 tahun adalah 400 mg 2x/hari (total maksimum 720 mg 2x/hari)
  • Terapi harus dimulai 24 jam setelah transplantasi.
  • Pada pasien yang diberi mikofenolat mofetil 2 g, terapi ini dapat digantikan dengan 720 g Myfortic 2x/hr

Over dosis
Konsumsi Myfortic yang berlebihan dapat menimbulkan overdosis dan terjadi oversupresi dari sistem imun. Akibatnya,  seseorang akan rawan terkena infeksi oportunistik, infeksi fatal hingga sepsis. Bila ditemukan diskrasia darah (misalnya neutropenia dengan jumlah neutrophil absolut kurang dari 1.5 x 103 /mL ataupun anemia), maka konsumsi myfortic sebaiknya dihentikan.

Gejala yang mungkin muncul bila terjadi overdosis meliputi : kelainan hematologi (leukopenia, neutropenia), dan gejala saluran cerna seperti nyeri abdominal, diarea, nausea, muntah dan dispepsia.

Untuk mengatasi overdosis dapat diberikan terapi suportif dan simtomatik. Dialisis diketahui dapat menyingkirkan metabolit inaktif Myfortic, yakni mycophenolic acid glucoronide (MPAG), namun tidak signifikan oleh karena ikatan senyawa asam mycophenolic dengan protein plasma yang mencapai 98%.

Dengan melakukan intervensi pada sirkulasi enterohepatik dari mycophenolic acid, misalnya dengan menggunakan charcoal atau sekuester asam empedu (kolestiramin), dapat mengurangi mycophenolic dalam peredaran darah sistemik.


Pemberian obat
  • Berikan pada saat perut kosong, 1 jam sebelum atau 2 jam sesudah makan.
  • Telan utuh, jangan dikunyah/ dihancurkan/ dipotong menjadi beberapa bagian
Kontraindikasi
  • Hipersensitif teradap mycophenolate Na, mycophenolik acid, mycophenolate mofetil atau terhadap kandungan lain obat ini.Reaksi hipersensitif biasanya ditandai dengan nyeri dada, kulit kemerahan, pruritus dan hipotensi
  • Hamil
Perhatian
  • Jangan diberikan pada pasien dengan defisiensi herediter hyphoxatine-guanine phosphoribosyltransferase.
  • Hindari sinar matahari dan paparan Ultraviolet.
  • Jangan menggunakan vaksin hidup.
  • Gangguan saluran cerna berat.
  • Hamil dan menyusui
Efek Samping
Efek samping Myfortic terutama pada hematologik dan saluran cerna dengan gejala antara lain : Leukopenia, nausea, sakit kepala,, tremor, diare, limfoma, penyakit keganasan lain, infeksi oportunistik, herpes simpleks, kandidiasis, gangguan saluran cerna, ulserasi lambung, haemorhage dan perforasi

Interaksi Obat
  • Antasid yang mengandung Mg dan Al hidroksida
  • Kolestiramin,
  • Obat lain yang mengganggu sirkulasi enterohepatik,
  • Kontrasepsi hormonal. Myfortic dapat menurunkan efektivitas obat kontrasepsi hormonal (oral, patch dan cincin) dan menyebabkan kehamilan.
  • Azathioprine
  • Rifampin
  • Obat-obatan yang yang melemahkan sistem imun (misalnya, natalizumab dan rituximab)
Kemasan
  • Tablet 180 mg x 12 x 10.
  • Tablet 360 mg x 5 x 10 dan 12 x10
Kategori Kehamilan
D

Kategori ATC
L04AA06 - Mycophenolic acid, selective immunosupressants

Info Tambahan
MYFORTIC (mycophenolic acid) adalah obat  tablet lepas lambat, berupa formulasi enterik dari mycophenolate sodium, yang membawa zat aktif dari myfortic yakni mycophenolic acid (MPA). Kandungan lainnya adalah zat tidak aktif seperti koloid silikon dioksida, crospovidone, laktosa anhydrosa, magnesium stearate, povidone dan pati.Sementara selaput enteriknya terbuat dari hypromellose phtalate, titanium dioksida, iron oxide yellow dan indigotine (180 mg) atau iron oxide red (360mg)
myfortic-mycophenolic-acid

Myfortic adalah obat golongan imunosupresan, bekerja sebagai inhibitor selektif, non kompetitif dan reversibel dari enzim inosine monophospate dehydrogenase (IMPDH). Inhibisi terhaap IMPDH akan menghambat sintesis nukleotida guanosin sehingga menghalangi proses proliferasi dari sel, khusunya sel imun limfosit T dan B, yang sangat tergantung pada proliferasi guanosin ini.

Pada penelitian in-vitro, tablet Myfortic tidak akan melepaskan zat aktif MPA dalam kondisi asam (PH di bawah 5) seperti yang ditemukan di lambung. Namun, selaput enteriknya sangat mudah larut pada kondisi PH normal seperti dalam usus. Konsentrasi maksimal dalam darah tercapai rata-rata dalam 1.5 hingga 2.75 jam pasca ingesti.

Dalam darah, Mycophenolic acid (MPA) berikatan kuat dengan albumin, hingga lebih dari 98%.  Sementara metabolitnya, mycophenolic acid glucoronida (MPAG) berikatan 82 % dengan albumin. Angka MPA bebas dapat menigkat bila ditemukan kondisi dimana ikatan dengan protein rendah, seperti pada malnutrisi, uremia, kegagalan fungsi hati/ginjal dan hypoalbuminemia.
rumus-bangun-senyawa-mycophenolic-acid

Sebagian besar MPA dibuang melalu urin dalam bentuk metabolitnya MPAG, (lebih dari 60%). Selain itu, MPAG juga di sekresikan melalui empedu dan di de-konjugasikan oleh flora usus menghasilkan MPA kembali. MPA ini akan diserap kembali dan menyebabkan peninggian kadar darah kedua kalinya dari MPA, kurang lebih 6-8 jam pasca di ingesti.

IMURAN (G)

Produsen
GlaxoSmithKline

Komposisi
Azathioprine

Indikasi
Pengobatan pada pasien yang menerima transplantasi organ, Hepatitis aktif kronik, Arthritis rheumatoid berat yang tidak berespon terhadap obat lain, Lupus eritematosus sismetik, Dermatomisitis, Pemfigus vulgaris, Poliateritis nodosa, Anemia hemolitik yang didapat, Purpura trombositopenia idiopatik, Pioderma gangrenosum

Dosis
Kondisi autoimun : 1-3 mg/kg/hr (50-100 mg), disesuaikan dengan respon pasien. 
Pada arthritis reumatoid, IMURAN diberikan dalam dosis tunggal atau terbagi 2x/hari. Dosis dapat dinaikkan setelah 6-8 minggu terapi, dan selanjutnya dengan interval 4 mingguan. Dosis dinaikkan hanya bila respon pasien kurang memuaskan dan tidak ada tanda toksisitas. Efek terapi biasanya dicapai dalam beberapa minggu, namun bila dalam 12 bulan tidak ada perbaikan, obat dapat dihentikan dengan penurunan dosis secara bertahap.

Supresi reaksi penolakan transplantasi : Dosis awal IMURAN 3 s/d  5 mg/kg kemudian dosis maintenance 1-3 mg/kg/hr , disesuaikan dengan respon pasien.
IMURAN biasanya diberikan dalam dosis tunggal harian, dimulai pada hari dilakukan transplantasi. Bila reaksi penolakan terhadap organ tetap berlangsung, dosis IMURAN tidak boleh dinaikkan hingga mendekati toksik karena akan mengakibatkan gangguan fungsi hematologik berat dan fungsi organ lainnya.

Pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal, dosis harus disesuaikan, lebih rendah dari yang biasa,

Over dosis
Dosis lethal LD50 dari IMURAN pada tikus adalah sekitar 2500mg/kg dosis tunggal. Dosis yang sangat besar dari obat ini akan menyebabkan hipoplasia sumsum tulang, perdarahan, infeksi dan kematian.

Sekitar 30% IMURAN akan berikatan dengan protein serum dan kurang lebih 45% dapat dibuang melalui hemodialisis selama 8 jam. Pernah ada satu kasus keracunan dilaporkan pada pasien dengan transplantasi ginjal. Pasien tersebut mengkonsumsi dosis tunggal IMURAN hingga 7500 mg. Efek toksik yang segera muncul meliputi nausea, muntah dan diare lalu diikuti leukopenia ringan, dan gangguan fungsi hati ringan. Kadar sel darah putih, SGOT dan bilirubin, kembali normal, 6 jam pasca overdosis.
Pemberian obat
Diberikan per oral.
Lebih dianjurkan untuk diberikan  pada saat atau sesudah makan untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada saluran cerna.
Sebaiknya dikonsumsi secara teratur dan pada jam yang sama
Pada arthritis, biasanya dibutuhkan waktu 2 bulan hingga keluhan benar-benar hilang. Beritahu dokter bila kondisi tidak membaik setelah 3 bulan penggunaan.

Kontraindikasi
Hipersensitif terhadap azathioprin dan 6-merkaptopurin.
Hamil.

Perhatian
Lakukan monitor pendahuluan terhadap kerusakan hati atau ginjal yang berat. Hamil. Lanjut usia (monitor terhadap hitung lekosit)

Efek Samping
Efek samping IMURAN terutama pada sistem hematologik dan saluran cerna. Gejala yang ditemukan meliputi : Depresi sumsum tulang, hematopoiesis, makrositosis. Mual, muntah, anoreksia, alergi, ikterus kolekstatik. Berat ringannya efek samping ini tergantung dosis serta kondisi penyakit yang mendasari.

Interaksi Obat
Alopurinol menghambat metabolisme IMURAN (azathioprine). Bila IMURAN digunakan bersamaan dengan allopurinol, maka dosis IMURAN harus disesuaikan 1/3 hingga 1/4 dari dosis biasa. Obat lain yang juga menghambat metabolisme IMURAN adalah golongan aminosalisilat.

Imuran menurunkan blokade neuromuskular dari obat kurare dan tubokurarin; menimbulkan efek potensiasi terhadap suksinikolin; menghambat efek antikoagulan dari warfarin. Tidak boleh diberikan bersama dengan penislamin, kotrimoksazol dan katopril

Kemasan
Tab 50 mg x 100

Kategori Kehamilan
D

Kategori ATC
L04AX01 - Azathioprine, other immunosupressants

Info Tambahan
Obat IMURAN mengandung zat aktif Azathioprine, merupakan obat imunosupresan dan antimetabolit yang digunakan pada transplantasi organ dan penyakit-penyakit autoimun. Selain azathioprine, IMURAN juga mengandung zat yang tidak aktif seperti laktosa, magnesium stearate, pati kentang, povidone dan asam stearat.
IMURAN-azathioprine-obat-imunosupresan

Azathioprine awalnya disintesis sebagai obat kanker dan pro drug dari merkaptopurine pada tahun 1957. Telah digunakan sebagai imunosupresan kurang lebih selama 50 tahun.

IMURAN merupakan turunan imidazolyl dari 6-mercaptopurine sehingga sebagian besar efek biologisnya menyerupai obat induk. Obat ini bekerja dengan cara mengintervensi proses replikasi DNA dalam sel dan memblok sintesis purin, sehingga menghambat proses replikasi sel. Sel-sel yang sering melakukan proses replikasi diantaranya adalah sel-sel imun seperti limfosit B dan T, olehnya menjadi paling terkena efek dari obat ini.
senyawa-azathioprine

IMURAN diabsorpsi dengan baik pada  pemberian oral. Kadar serum maksimum tercapai 1-2 jam pasca ingesti oral dan waktu paruh adalah sekitar 5 jam. IMURAN dimetabolisme menjadi 6-mercaptopurine dan keduanya dibuang dari darah dengan cepat melalui proses metilasi di eritrosit dan hepar. Azathioprine dan mercaptopurin akan ditemukan dalam urin, 8 jam setelah setelah dikonsumsi per-oral.

CELLCEPT (G)

Produsen
Roche

Komposisi
Mychopenolate mofetil

Indikasi
Profilaksis dan pengobatan reaksi penolakan organ pada pasien transplantasi ginjal, hepar dan janting alogenik.
Sebaiknya digunakan bersama dengan siklosporin dan kortikosteroid.

Dosis
Profilaksis : 1 g 2x/hr, oral harus diberikan dalam 72 jam setelah transplantasi.
Pengobatan : 1 g 2x/hr. 

Baik profilaksis maupun pengobatan harus disertai penggunaan siklosporin dan kortikosteroid sebagai standar terapi.
Sediaan intravena dari Cellcept merupakan alternatif dari sediaan kapsul, tablet ataupun suspensi oral bila ada efek samping saluran cerna.
Bila diberikan intravena, Cellcept harus diberikan dalam waktu 24 jam sejak transplantasi dilakukan.
Sediaan intravena dapat diberikan hingga 14 hari,dan harus diganti kembali ke sediaan oral, bila pasien telah mampu mentolerir efek samping.

Pemberian obat
Berikan pada saat perut kosong.
Pada pasien penerima transplantasi ginjal yang stabil, obat dapat diberikan bersama makanan, bila perlu.

Kontraindikasi
CellCept dikontraindikasikan pada mereka yang memiliki riwayat alergi terhadap mycophenolate mofetil, asam mycophenolic dan komponen obat lainnya.

Sebagai tambahan, untuk sediaan injeksi, dikontraindikasikan pada alergi terhadap Polysorbate 80.

Perhatian
Gagal ginjal kronik berat, pendarahan GI, hamil dan laktasi. 
Awasi kadar neutrofil darah

Efek Samping
Diare, leukopenia, sepsis, muntah, konstipasi, nyeri perut, tremor, bengkak dan rasa kebas pada jari tangan atau kaki.

Interaksi Obat
Konsentrasi meningkat dengan asiklovir.
Penyerapan berkurang dengan antasida.
Konsentrasi plasma berkurang dengan kolestiramin, meningkat dengan probenesid
Makanan mempengaruhi penyerapan
Berinteraksi dengan azathioprine
 
Kemasan
Kapsul 250 mg x 10 x 10
Tablet 500 mg x 50

Kategori Kehamilan
D

Kategori ATC

Info Tambahan
Mycophenolate mofetil dalam eksperimen pada hewan coba memperlihatkan efek pemanjangan masa survival dari organ transplan alogenik seperti ginjal, hati, jantung, usus, usus kecil, pankreas dan sumsum tulang.
CellCept-mycophenolate-mofetil
Mycophenolate mofetil juga mampu membalikkan proses penolakan akut pada ginjal kucing dan jantung tikus dan menghambat proses inflamasi yang diinduksi reaksi imun. Obat ini juga mencegah proliferasi dari arteriopati dari aorta dan jantung pada hewan coba tikus dan primata.

Dalam eksperimen di atas, Mycophenolate mofetil digunakan sebagai agen tunggal maupun dalam kombinasi dengan imunosupresan lain

Pada pemberian oral, Mycophenolate mofetil akan dengan cepat diserap, dan membentuk MPA, yang merupakan metabolit aktifnya. MPA merupakan inhibitor dari inosine monophosphate dehydrogenase (IMPDH) yang potent, selektif, tidak kompetitif dan reversibel. MPA ini menghambat jalur sintetis nukelotida guanosin tanpa mengintervensi DNA.

Oleh karena sel limfosit B dan T sangat tergantung proliferasinya pada sintesis purin, maka metabolit MPA ini sangat toksik terhadap sel-sel limfosit. Sementara sel-sel tubuh lain, dapat memiliki cara lain untuk berproliferasi meski jalur sintesis guanosinnya dihambat.

MPA menghambat respon proliferatif dari limfosit baik terhadap stimulasi mitogenik dan allospesifik. Lebih lanjut, MPA menekan pembentukan antibodi, menghambat glikosilasi dari glikoprotein limfosit dan monosit (yang berperan pada perlekatan interseluler), dan mencegah rekruitmen leukosit ke lokasi inflamasi dan penolakan transplan berlangsung.

Mycophenolate mofetil tidak menghambat proses aktivasi dini dari aktivitas sel mononuklear pada darah perifer, seperti produksi interleukin-1 (IL-1) dan interleukin-2 (IL-2), namun mampu menghalangi efek penggandaan dari sintesis interleukin ini serta sintesis DNA dan proliferasi dari sel mononuklear di darah perifer tersebut.

Mycophenolate mofetil awalnya digunakan untuk terapi penyakit autoimun seperti idiopathic thrombocytopenic purpura (ITP), systemic lupus erythematosus (SLE), scleroderma (systemic sclerosis or SSC), dan pemphigus vulgaris (PV).

Saat ini juga masih digunakan pada terapi jangka panjang untuk mempertahankan remisi dari granulomatosis yang disertai polyangitis. Meskipun menurut penelitian efeknya kurang manjur bila dibandingkan azathioprine. In vitro, kombinasi mycophenolate mofetil dengan ribavirin, bermanfaat mengehntikan replikasi virus DNA seperti virus dengue.

Takayasu arteritis, ANCA-associated vasculitides and semua vaskulitis pembuluh darah sedang, berespon dengan obat ini.

Namun oleh karena sifatnya yang slow-onset (onset lambat) maka bila digunakan untuk terapi yang agresif, harus dikombinasikan dengan imunosupresan lain dan steroid dosis tinggi.

ZADAXIN (G)

Produsen
Tempo Scan Pacific/SciClone
Komposisi
Thymosin α-1
Indikasi
Pengobatan hepatitis B kronik pada pasien ≥18 tahun, infeksi hepatitis C kronik, komplikasi penyakit liver dan replikasi virus hepatitis B (HBV)(SERUM HBV DNA +ve) serta sebagai adjuvant pada kemoterapi tertentu.
Dosis
Untuk Hepatitis B kronik sebagai monoterapi atau kombinasi dengan interferon : 1.6 mg (900 µg/m2) Subkutaneus 2x seminggu dengan dosis terpisah dalam 3-4 hari selama 6-12 bulan. Bila berat badan kurang dari 40 kg, maka dosisnya 40 µg/kg.

Untuk Hepatitis C kronik 1,6 mg 2x/minggu selama 12 bulan. Pasien berat badan <40 kg dosisnya 40 µg/kg.

Zadaxin kadangkala juga dibutuhkan pada kanker diberikan dengan jadwal bervariasi selama 6 bulan atau di antara siklus kemoterapi. Dosisnya 1.6 mg (900 µg/m2) diberi subkutaneus
Pemberian obat
Injeksi Subkutaneus, jangan diberikan intravena
Kontraindikasi
Pasien transplantasi imunosupresan
Perhatian
Monitor fungsi liver secara periodik
Efek Samping
Rasa tidak enak pada tempat suntikan
Interaksi Obat
Imunomodulator
Kemasan
Vial 1.6 x 2
Kategori Kehamilan
C
Kategori ATC
L03AX - other immunostimulants
Info Tambahan
ZADAXIN mengandung thymosin alpha-1 diindikasikan sebagai monoterapi maupun kombinasi dengan interferon untuk terapi infeksi hepatitis B kronik dan hepatitis C kronik.
zadaxin-thymosin-alpha-1

Obat ini diberikan 2 kali dalam seminggu selama 6 bulan. Pada sebuah studi terhadap 223 pasien yang mendapat terapi ini, follow up dilakukan 12 bulan pasca selesai siklus obat. Hasilnya menunjukkan kadar enzim ALT pada hati normal, hingga 12 bulan atau lebih lama. Kadang ada dijumpai peninggian sementara enzim ALT, namun pengobatan tidak perlu dihentikan, kecuali bila disertai tanda dan gejala kegagalan fungsi hati.

Obat ini juga dapat sebagai terapi adjuvant pada kemoterapi yang menginduksi depresi, insufisiensi dan supresi dari sistem imun pada perawatan pasien dengan karcinoma paru non small cell (NSCLC), malignant melanoma, hepatocelluler carcinoma, limfoma non Hodgkin, kanker kolorektal, kanker kepala dan leher, leukemia, kanker pankreas dan kanker sel ginjal.

Pada penelitian terhadap 1000 pasien dengan berbagai tipe kanker, ditemukan bahwa, pemberian thymosin alpha-1 akan membantu memperbaiki parameter sistem imun pasien, memperbaiki ratio kepekaan respon tumor, dan secar keseluruhan memperbaiki tingkat survival dan kualitas hidup pasien. Untuk adjuvant kemoterapi ini, Zadaxin diberikan selama 6 bulan atau di antara siklus kemoterapi.

Cara kerja thymosin alpha-1 belum diketahui secara pasti namun diduga bekerja sebegai imunomodulator dan memperkuat fungsi sel T.

IMOVAX POLIO (G)

Produsen Sanofi Pasteur
Komposisi
  • Komposisi per 0.5 ml mengandung virus poliomyelitis inaktif tipe 1(Mahoney) : 40 antigen unit, tipe 2 (MEF1) : 8 antigen units, type 3 (Saukett) : 32 antigen unit.
  • Komposisi bahan non medis : 2-phenoxyethanol
  • Residual proses pembuatan : formaldehyde, calf serum protein, neomycin, streptomycin, polymyxin B
Indikasi
  • Sebagai imunisasi aktif terhadap polio yang disebabkan virus polio tipe 1,2 dan 3 pada bayi umur 2 bulan, anak-anak dan dewasa, baik sebagai imunisasi primer maupun booster.
  • Pencegahan poliomielitis pada bayi dan anak dengan penurunan imunitas atau pasca kontak dengan anggota rumah tangga. 
  • Untuk vaksinasi pada individu yang tidak dapat diberikan (kontra indikasi) vaksin polio oral
Dosis Dosis pada anak
Dosis Imunisasi primer IMOVAX Polio pada anak terdiri atas 3 dosis 0.5 ml yang diberikan secara subkutan.Imunisasi dimulai sejak usia 2 bulan. Interval antara dosis pertama dengan dosis kedua minimal 4 minggu tapi sebaiknya 8 minggu. Dosis ketiga diberikan minimal 6 bulan namun sebaiknya 12 bulan pasca injeksi kedua. Jadwal dosis primer ini dapat  diintegrasikan dengan pemberian imunisasi difteri, tetanus, pertussis dan haemophilus influenzae tipe B. dimulai pada usia 2 bulan.

Cara alternatif dengan pemberian 3 dosis 0.5 ml dengan interval 8 minggu masing-masingnya, diikuti pemberian dosis keempat 0.5 ml, 12 bulan pasca injeksi ketiga.

Bila terjadi kelambatan pemberian imunisasi melewati usia 2 bulan, jadwal pemberian tetap mengikuti pola interval injeksi yang sama.

Dosis booster dapat diberikan pada usia 4-6 tahun. Kecuali bila injeksi terakhir dari dosis primer berakhir pada usia 4 tahun, maka booster diberikan pada usia 14-16 tahun.

Total keseluruhan 4 dosis diperlukan untuk memberikan perlindungan total. Bila anak dan remaja mendapat imunisasi polio yang tidak komplit, harus mendapat dosis tambahan hingga genap 4 dosis. Total 4 dosis ini termasuk dengan dosis vaksin polio oral (bila sebelumnya diawali vaksin polio oral).

Dosis pada orang dewasa
Orang dewasa yang sebelumnya mendapat vaksin polio namun tidak komplit (baik oral maupun injeksi), harus mendapat dosis yang tersisa dalam bentuk injeksi, berapapun lamanya interval sejak dosis terahir yang diterima.

Orang dewasa yang berisiko tinggi terpapar virus polio : diberi dosis tunggal bila telah lebih 10 tahun sejak dosis primer telah komplit.
Pemberian obat
  • Kocok prefilled syringe sebelum digunakan agar larutan tersebar merata.
  • Injeksi dilakukan subkutaneus. Pada bayi dan anak dianjurkan di daerah mid-lateral dari paha. Pada anak  yang lebih besar dan dewasa, injeksi dianjurkan pada daerah deltoideus atau triceps.
Kontraindikasi Demam, Penyakit akut atau penyakit kronik progresif, hipersensivitas, penyakit infeksi febril akut.
Alergi terhadap bahan aktif dan non aktif dari vaksin (bahan inaktif seperti neomisin, streptomisin, polimiksin B) 
Perhatian Efektivitas dan keamanan vaksin ini pada pemberian terhadap anak usia dibawah 6 minggu tidak diketahui.
Efek Samping Kadang kala dapat terjadi demam dan bengkak pada tempat injeksi
Dapat terjadi alergi pada orang tertentu
Interaksi Obat
  • acetaminophen
  • belimumab
  • fingolimod
  • immunosuppressan (obat yg digunakan untuk terapi kanker, penyakit autoimun dan reaksi penolakan pada transplantasi organ)
  • azathioprine
  • kortikosteroid (misalnya : budesonide, dexamethasone, hydrocortisone, fluticasone, prednisone)
  • cyclosporine
  • hydroxyurea
  • infliximab
  • obat kemoterapi (misalnya : carboplatin, cyclophosphamide, doxorubicin, ifosfamide, vincristine)
  • mycophenolate
  • rituximab
  • tacrolimus
  • warfarin
Kemasan Kemasan Dosis tunggal berisi syringe 0.5 mL x 1
Kemasan Paket 10 dosis berisi syringe 0.5 mL x 10
Kategori Kehamilan C
Kategori ATC J07BF03 - Poliomyelitis, trivalent, inactivated, whole virus
Info Tambahan
  • Poliomyelitis disebabkan 3 jenis kelompok virus polio yang tergolong enterovirus . Poliomyelitis merupakan penyakit yang menyebabkan kelumpuhan total pada beberapa orang yang terinfeksi. Kelumpuhan ini bersifat ireversibel (menetap).
    vaksin-polio-IMOVAX-POLIO
    Polio merupakan penyakit yang sangat menular, terutama menular melalui jalur fecal-oral namun dapat pula melalui jalur faring (saluran nafas). Vaksin polio pertama dilakukan di kanada tahun 1955 dan berhasil mengatasi infeksi ini.

    Vaksin polio injeksi (IPV) mampu memicu tubuh menghasilkan antibodi (igA) yang dihasilkan di faring dan usus.  Memori sistem imun terhadap virus polio tipe 1 disebutkan bertahan hingga 10 tahun namun secara umum, perlindungan terhadap infeksi polio adalah hingga 4 tahun lebih pasca injeksi dosis primer diselesaikan.
  • Simpan pada suhu 2° hingga 8° C (35° to 46° F). Jangan dibekukan. Perhatikan tanggal kadaluarsa
  • Vaksin IMOVAX POLIO tidak mengandung thimerosal (thimerosal free)
  • Pemerintah berencana mengganti total penggunaan vaksin polio oral dengan injeksi beberapa tahun ke depan.

ENGERIX-B (G)

Produsen GlaxoSmithKline
Komposisi Adsorbed purified surface antigen protein of hepatitis B virus (recombinant)
IndikasiImunisasi aktif terhadap infeksi virus hepatitis B, dapat digunakan untuk  melengkapi vaksinasi primer atau sebagai booster pada subyek yang sebelumnya menerima vaksinasi primer dengan vaksin hepatitis B yang telah direkayasa secara genetik.
Dosis
  • Dewasa dan anak > 10 tahun 20 mcg (IM pd bagian deltoid)
  • Anak < 10 tahun 10 mcg (IM pd bagian anterolateral paha). 
  • Jadwal pemberian bulan ke 0,1 dan 6
Pemberian obat
  • Injeksi intramuskular dilakukan di bagian anterolateral paha pada anak < 1 tahun dan otot deltoid pada anak lebih besar. 
  • Injeksi jangan pada otot gluteus karena akan memberikan hasil yang tidak optimal. 
  • Injeksi pada subkutaneus akan memberi hasil antibodi yang lebih rendah. Dilakukan hanya apabila pasien berisiko terjadi perdarahan, misalnya pada penderita hemofilia.
  • Jangan diberikan intravena dan intradermal.
Kontraindikasi
  • Hipersensitif terhadap komponen vaksin.
  • Tunda vaksinasi pada individu yang menderita febris (demam) akut
Perhatian Hamil dan laktasi
Efek Samping Reaksi lokal pada tempat penyuntikan, demam, kurang enak badan, sakit kepala, mual, pusing
Interaksi Obat Obat imunosupresan
Kemasan Pre filled syringe 10 mcg/0.5 ml x 1
Vial 20 mcg/ 1ml x 1
Kategori Kehamilan C
Kategori ATC J07BC01 - hepatitis B, purified antigen 
Info Tambahan
ENGERIX-B (hepatitis B vaccine (recombinant)) diindikasikan sebagai imunisasi aktif melawan infeksi hepatitis B. Vaksin ini tidak memberi perlindungan terhadap hepatitis A , dan virus hepatitis non A non B lainnya. Untuk infeksi Hepatitis D tidak akan terjadi kalau infeksi hepatitis B tidak ada, sehingga vaksin ini juga dapat mencegah infeksi hepatitis D.
engerix-b-vaksin-hepatitis-b

Vaksin ini dapat diberikan pada kelompok umur mana saja. Dapat diberikan sebagai vaksin primer maupun sebagai booster. Juga dapat sebagai pelengkap dosis primer maupun sebagai booster pada vaksinasi hepatitis B yang menggunakan vaksin yang berasal dari plasma atau jamur.

Pada daerah dengan angka infeksi hepatitis B yang rendah, vaksinasi sangat dianjurkan pada mereka yang berisiko tinggi, seperti petugas kesehatan, pasien RS (yang mendapat transfusi, hemodialisis,dll)

Virus hepatitis B menyebabkan infeksi hepatitis yang tergolong berat.  Penularan infeksi ini melalui kontak kulit dengan darah, plasma ataupun serum penderita. Selain itu, penularan virus hepatitis B juga dapat melalui kontak permukaan mukosa dan kulit (utuh maupun luka)  terhadap cairan tubuh penderita yang lain seperti air liur, sekresi mukosa dan semen.

Tidak ada terapi yang spesifik untuk hepatitis. Periode inkubasi sejak terpapar hingga menimbulkan gejala adalah sekitar 6 bulan. Gejala yang muncul bisa sangat kompleks, dari gambaran infeksi akut, hingga kronik dan seringkali membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Infeksi hepatitis B merupakan salah satu masalah kesehatan dunia yang utama, meskipun insidens dan epidemiologinya bervariasi diantara wilayah geografi dan kelompok populasi yang berbeda.

Di Kanada, Amerika Serikat dan Eropa bagian utara, ditemukan angka kejadian sekitar 4-6% dari keseluruhan populasi (sebgaian besar terinfeksi pada kelompok umur dewasa muda). Dari jumlah ini, 5 hingga 10%, menjadi pembawa virus yang menetap (persistent carrier).

Di Asia, infeksi hepatitis B sebagian besar pertamakali muncul pada kelompok usia lebih dini dengan angka prevalensi marker hepatitis B mencapai 70% dari populasi. Dari jumlah ini, 20% nya merupakan carrier menetap.

Diperkirakan di seluruh dunia, carrier virus hepatitis B mencapai 350 juta orang. Mereka pembawa virus yang menetap ini, berisiko tinggi terkena infeksi hati kronik yang berujung pada sirosis hati dan karsinoma hepatoseluler. Penurunan yang signifikan dari insiden karsinoma hepatoseluler, dapat dicapai melalui vaksinasi hepatitis B pada anak usia 6-14 tahun. Vaksinasi hepatitis B dalam jangka panjang,secara signifikan menurunkan semua risiko terkait  hepatitis B, baik infeksi secara langsung maupun komplikasi kronisnya (sirosis dan ca.hepatoseluler).

Kandungan lain vaksin ini :
Aluminum hydroxide 0.5 mL dan 1.0 mL
formulasi bebas thimerosal